Monthly Archives: September 2012

Zahrana : Yang Penting Ia Lelaki Yang Sholeh


“Cinta Suci Zahrana” mengisahkan seorang dosen perempuan berprestasi, bernama Dewi Zahrana. biasa dipanggil Zahrana atau Rana.

Dia dosen arsirektur di Universitas Mangunkarsa, Semarang. Semua jerih payah dan prestasi membanggakan Zahrana sedikitpun tidak membuat kedua orang tuanya bangga, terutama ayahnya.
Ayah Zahrana, Pak Munajat, menyampaikan bahwa ia tidak lagi membutuhkan sederetan piagam penghargaan internasional dari anak semata wayangnya.melainkan melihat Zahrana bersanding di pelaminan dan dapat segera menimang cucu.

Zahrana menghadapi masalah pelik, ketika seorang lelaki setengah baya bernama H. Sukarman, M.Sc. dekan Fakultas Teknik dan Arsitektur Universitas Mangunkarsa Semarang, yang tak lain adalah atasan Zahrana sendiri, datang untuk menyuntingnya.
Pak Karman berstatus duda, genit dan suka main perempuan. Ternyata tak mudah bagi Zahrana menolaknya lamaran itu, meski dengan segala alasan keburukan yang dimiliki Pak Karman.
Terlebih lagi jika kedua orangtua Zahrana dijanjikan akan dihajikan oleh Pak Karman bila pernikahan itu jadi dilangsungkan. Tetapi Zahrana tegas bersikap.
Meskipun ia sudah dianggap perawan tua, tidak berarti asal menikah. Cacat moral Pak Karman membuatnya menolak lamaran atasannya itu. Penolakan lamaran itu ternyata berbuntut panjang.
Penolakan Zahrana dan keluarnya Zahrana dari Universitas Mangunkarsa membuat sakit Pak Munajat semakin parah.

Sampai suatu hari, Lina, teman Zahrana mengajak Zahrana untuk meminta bantuan pada Kyai Amir Shadiq, Pengasuh Pesantren. Oleh Sang Kyai Zahrana dijodohkan dengan pemuda penjual kerupuk yang shalih bernama Rahmad. terlihat Zahrana sedikit tersedak ketika ustadzdah mengatakan :
“Zahrana, lelaki ini jauh sekali strata pendidikannya dengan mu, ia hanya lulusan Aliyah”
“yang penting bagi ku ustadzah, dia adalah lelaki yang sholeh. kalo boleh tau apa pekerjaan lelaki itu ustadzah??”
“ia pedagang kerupuk keliling”
“Glekkkkkkk…” Zahrana sedikit tersedak, mendengar profil calon suami yang akan mendampingi hidupnya kelak. namun ia memantapkan hatinya, asalkan ia lelaki yang sholeh saya siap ustadzah. dan saya yakin, yang merekomendasikan orang baik dan sholeh, maka yang direkomendasikan juga orang yang baik dan sholeh. itu cukup untuk ku ustadzah.
Zahrana menerima Rahmad walaupun latar belakang pendidikannya jauh lebih rendah dari Zahrana.
Tetapi saat akad nikah sudah di depan mata, Rahmad meninggal secara tragis.

Bagaimanakah akhir cerita Zahrana? Apakah Zahrana berhasil bangkit dari guncangan jiwanya? Apakah ia akhirnya akan menemukan jodohnya? Siapakah dia?
Bagaimanakah akhir kisah perempuan berprestasi yang terlambat menikah bernama Zahrana ini ?
Silahkan para pembaca  menyaksikan film syarat hikmah ini atau beli cepat novelnya di gramedia terdekat 🙂 iyah nih,, terutama bagi para aktivis Islam yang masih sendirian. yang telah menyiapkan sekian syarat bagi calon pendamping hidupnya.

Iklan

Doa untuk Kita dari Orang yang Tak Kita Kenal


Ketika kita merasakan kebahagiaan, sungguh dibalik kebahagiaan yang kita rasakan harus kita yakini bahwa banyak orang diluar sana yang tidak kita kenal yang selalu setia mendoakan kebaikan untuk diri kita,

Ketika kita merasakan kesedihan, sungguh di balik kesedihan yang kita rasakan, banyak orang yang tidak kita kenal diluar sana yang selalu setia mendoakan agar kita bahagia,

Ya,,,Doa orang yang tak dikenal untuk kita laksana jantung yang ada di dalam tubuh kita, ikhlas tulus hanya karena ingin mengharapkan ridho dari Allah semata, ia tidak ingin di ketahui keberadaanya, ia hanya ingin agar orang orang yang ia kenal maupun tidak pernah ia jumpai dalam kehidupannya bisa merasakan kebahagiaan seperti kebahagiaan yang ia rasakan, Ia hanya ingin agar disetiap untaian doa kebaikan yang ia panjatakan kepada Allah bisa dirasakan oleh banyak orang. Sungguh mulia orang yang senantiasa mendoakan kebaikan untuk orang lain, lisan dan hatinya selalu di basahi oleh asma Allah, disetiap desah nafasa dan denyut jantungnya adalah dzikir dan doa. Lantas bagaimana dengan diri kita,,,malu rasanya jika kita selama ini hanya berdoa untuk kebaikan diri kita sendiri, malu rasanya jika kita hanya berdoa untuk kebahagiaan diri kita sendiri, bukankan kebaikan dan kebahagiaan itu akan terasa nikmat jika kita bisa berbagi dengan orang lain.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Sejenak mari kita simak kisah yang begitu indah nan agung, dari seorang putri Rasulullah SAW , beliau adalah Sayyidah Fathimah,

Seperti biasa, pada sepertiga malam terakhir, Sayyidah Fathimah — putri kesayangan Rasulullah saw senantiasa melaksanakan shalat tahajud di rumahnya. Terkadang, ia menghabiskan malam-malamnya dengan qiamu lail dan doa. Hasan bin Ali, putranya, sering mendengar munajat sang bunda.

Suatu pagi, ketika Sayyidah Fathimah selesai berdoa, Hasan kecil bertanya, “Ya Ummi, dari tadi, aku mendengarkan doamu, tetapi tak satu pun doa yang kau panjatkan untuk dirimu sendiri?”

Fathimah menjawab dengan lembut, “Nak, doakan dulu tetanggamu karena ketika para malaikat mendengarkanmu mendoakan tetanggamu, niscaya mereka akan mendoakanmu. Adakah yang lebih baik daripada doa para malaikat yang dekat dengan Allah, Tuhan kita?”

Apabila salah seorang mendoakan saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui oleh yang didoakan, para malaikat berkata, “Amin, semoga engkau memperoleh pula sebagaimana yang engkau doakan itu.” (HR Muslim dan Abu Dawud)

Mari mulai saat ini kita senantiasa memainkan perananan hati dan lisan kita untuk selalu mendoakan kebaikan untuk orang yang kita kenal ataupun orang yang tidak kita kenal, Sungguh indah ketika doa doa kebaikan di panjatkan oleh orang orang yang shaleh 🙂

Wallahualam bisawab,

SUAMIKU POLIGAMI


…. SUAMIKU POLIGAMI ….

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Poligami .. ooh .. poligami, kata itu terdengar tidak asing lagi. Namun, bagi yang belum siap di poligami jadi membuat merah telinganya. Mengapa demikian?

Karena kebanyakan para suami yang sudah kebelet ingin poligami, tidak memperhatikan rambu-rambu yang baik dalam rumah tangga. Kadang sering berperilaku aneh, dan curang, bahkan berani berbohong.

Hari itu ada cerita yang membuat sedih hatiku, setelah usai sholat shubuh.. kedua kaki pun melangkahkan kembali ke asrama. iyah seperti biasanya sehabis balik sholat shubuh dari mesjid universiti,,mulai mengambil secarbik kertas,pena dan segera ku ambil kitab kesayanganku. 3 menit kemudian fon berdering..,” kawan lama nan jauh di aceh ada call.” segera aku jawab…
salam sayang rindu pun terdengar jauh tapi terasa dekat…

akan tetapi perasaan ini seperti berganti buruk mulai miris mendengarnya,… malah kadang seperti mimpi di siang bolong. yah… Teman saya yang sudah lama menikah dan punya anak yang sudah besar, hendak menuntut cerei suaminya, karena dia merasa tidak di hargai keberadaannya, ketika dia mengetahui suaminya sudah menikah lagi, bahkan kebohongan suaminya itu sudah satu tahun lamanya.

kenapa suamimu harus berbohong padamu ukhtiku sayang…
Apa yang mebuatnya berbuat demikian ukhtiku sayang…
Apa kau sudah tiada cantik di matanya…
segala pertanyaan aku berikan pada kawanku itu..

sesak dada menahan kesedihan ini mendengar kisahnya.. tapi segera ku alihakan perhatiannya dengan bertanya kabar tentang bidadari-bedadari kecilnya.. hanya kerana aku tak ingin ia mendengar isak tangisku yang telah berlinangan air mata mendengar kabar sebegini darinya… iyah yang dimana aku ada harus memberi semangat padanya.. tapi aku malah juga larut dalam kesedihanya.

Apa gerangan yang terjadi dengan poligami? Mengapa orang-orang sholeh yang menjadi panutan, justru malah mencoreng dirinya dengan perbuatan yang kurang ahsan (baik)? Mereka mengorbankan rumah tangga mereka demi mengejar ambisi yang belum tentu sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Poligami itu sunnah-kan bukan wajib?

Wajib mana antara poligami dengan menjaga ketentraman rumah tangga?

Bila poligami dikerjakan, rumah tangga yang dibina belasan tahun bahkan puluhan tahun, jadi hancur berantakan.

Namun bila tidak berpoligami alias menahan nafsu dari keinginan itu, rumah tangga di jaga dengan baik, dakwah lancar dan pikiran tenang.

Sudah banyak contohnya, apa lagi yang belum lama terjadi, da´i kondang yang menjadi panutan masyarakat, dengan keluarganya yang sakinah, karena terbawa ambisi dengan poligami. Namun beliau ‘belum mampu’ untuk melaksanakannya dengan baik, maka rumah tangganya jadi ‘berantakan’, dan beliau harus berpisah dengan istri pertamanya.

Sekarang mana yang lebih baik. Poligami atau menjaga keutuhan rumah tangga?

Jangan salahkan poligami-nya, tapi salahkan pelakunya yang belum siap, tapi memaksakan diri.

Saya rasa bukan begini yang diinginkan oleh Rasulullah SAW, beliau SAW pun akan sedih bila mengetahui hal ini, gara-gara ingin mengikuti sunnah, hancur semua yang sudah dibina belasan tahun, hancur sudah sang penerus dakwah ini, dan perceraian yang dibenci oleh Allah SWT, menjadi halal, walaupun dalam hadist Rasulullah SAW bersabda :

Dari Umar, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesuatu yang halal tapi dibenci Allah adalah perceraian.” (HR. Abu Daud dan Hakim)

Halal bukan berarti dibolehkan begitu saja dikerjakan, halal dengan kata lain, bila rumah tangga yang dibina selalu dalam pertengkaran dan sudah banyak mudhorot-nya, maka jalan cerai itu menjadi halal dan dibenarkan. Allah pun tidak suka melihat seorang hamba-Nya teraniaya.

Misalkan teraniaya hatinya, sedih yang berkepanjangan, stres dan bahkan sampai sakit yang berlebihan menimpa si istri yang memang belum siap di-poligami, maka hal itu di bolehkan, untuk menyelamatkan seorang ibu, yang harus terus mendidik anak-anaknya.

Mungkin dengan bercerei maka si istri bisa berkonsentrasi dengan satu hal saja, yaitu mendidik anak-anak lebih baik lagi, sebagai penerus dakwah, dan tidak lagi memikirkan sakit hatinya yang telah diduakan dan ‘merasa tidak dihargai’ oleh suaminya.

Mengapa kini poligami menjadi terdengar mengerikan, bahkan para ibu rumah tangga sekarang banyak yang menjadi ‘parno’ alias ‘para noit’, atau jadi takut mendengar kata poligami, jangan disamakan para ummahat sekarang dengan ummahatul mu´minin. Jangan!!!

Kenapa? Zaman sudah berbeda kawan. Apakah para suami juga mau disamakan seperti Nabi Shallahu alaihi wa sallam? Beliau Shallahu alaihi wa sallam ber-poligami, tapi kelakuannya baik sekali. Tidak mengecewakan dan sangat menghargai istri-istrinya.

Wahai para suami yang sholeh kenalilah istri-istrimu dengan baik, pahami dan cintai dengan sepenuh jiwa, jangan disakiti, jangan dihinakan, jangan dikhianati cintanya dan jangan dibiarkan sampai keluar jalur.

Wahai para suami yang sholeh, bimbinglah istri-istrimu dengan cara yang ahsan, agar kau dapat menjalani keinginanmu dengan cara baik dan bijak, ingat poligami bukan sekedar penyaluran syahwat, yang berlebih.

Karena kebanyakkan para lelaki mengibaratkan, bahwa lelaki itu memiliki nafsu yang berlebih, jadi perlu penyaluran tempat yang banyak atau lebih dari satu, naudzubillahi minzalik.

Saya membaca dalam al-Qur´anul karim, tidak ada Allah menuliskan hal itu. Karena kewajiban poligami itu dikatakan bagi yang mampu dan dapat berbuat adil. Syaratnya pun tidak sembarang saja, siapa saja yang baik dinikahi, tidak seenaknya saja, misalkan memilih yang lebih cantik dan lebih seksi dari istri pertama, atau kembali ke mantan pacar.

Wah, kalau begitu tujuan utamanya saja sudah salah, bagaimana mendapat ridho Allah, istri pun pasti merasa dilecehkan, waktu susah sama-sama, istri masih muda disanjung-sanjung, tapi sudah senang cari yang baru, istri makin tua, dilupakan.

Apakah anda senang wahai para suami, melihat orang yang selama ini bersama anda, menolong kesuksesana anda, menjaga aib anda, dan bahkan makan-tidur anda selama bertahun-tahun lamanya, sejak awal susah hingga anda sukses dan melahirkan anak-anak anda, dengan ikhlas bangun malam menjaga amanah dari Allah SWT, kini orang dekat anda itu menangis.

Memohon agar anda tidak dulu menduakannya, karena dia belum siap. Namun anda tidak memperdulikannya, apakah tidak sebaiknya anda menunda dahulu agar sang istri siap dunia akhirat untuk di poligami, yang dengan tujuan karena Allah SWT, apakah anda tidak sebaiknya membimbingnya dulu agar istri anda dapat menjadi panutan para ummahat yang lain?

Apakah anda tidak sadar, bila anda berani menyakiti istri anda, berarti anda juga sudah menyakiti orang tuanya yang sudah melahirkannya, saudara-saudaranya, bahkan Allah SWT yang menciptakannya.

Melihat situasi seperti ini, mengapa poligami harus dipaksakan, poligami toh, bukan karena nafsu kan, tujuannya karena hendak menolong kan, lantas apakah anda lebih mendahulukan menolong orang lain, dari pada menolong istri anda yang saat anda utarakan niat anda tiba-tiba istri anda menjadi ling-lung dan stres dikarenakan ketidaksiapannya, mengapa anda tidak menolong rumah tangga anda dulu saja, yang sudah anda bina belasan tahun.

Poligami itu-kan menyatukan dua wanita atau lebih, menjadi saudara, dan saling membimbing serta menasehati, hidup rukun dan tidak ada percekcokan, bukankah begitu yang diajarkan Baginda Rosullullah saw, tapi mengapa ketika poligami terjadi, istri pertama dilepas atau malah istri pertama menggugat cerai, apakah ini yang dinamakan poligami, kalau kayak begini namanya bukan poligami dong, melainkan menukar istri yang lama dengan yang baru, kayak beli sepatu saja ya.

Rasulullah SAW amat sangat menghargai istri-istrinya, bahkan Siti Khadijah yang sudah wafat pun amat sangat Beliau SAW hargai dan sayangi, sampai-sampai beliau berkata pada Aisyah yang cemburu ketika Rasullullah SAW sering menyebutkan nama Khodijah, bahwa Khadijah adalah istri yang sangat beliau sayangi dan tidak tergantikan, seperti dalam hadist yang berbunyi:

Dari Aisyah radhiyallahu anha pernah berkata,

“Aku tidak pernah cemburu terhadap wanita seperti kecemburuanku terhadap Khadijah, karena Nabi Shalallahu alaihi wassalam seringkali menyebut namanya. Suatu hari beliau juga menyebut namanya, lalu aku berkata, ‘Apa yang engkau lakukan terhadap wanita tua yang merah kedua sudut mulutnya? Padahal Allah telah memberikan ganti yang lebih baik darinya kepadamu’. Beliau bersabda, ‘Demi Allah, Allah tidak memberikan ganti yang lebih baik darinya kepadaku’.” (HR. Bukhari)

Betapa amat sangat menghargai dan cintanya Rasulullah SAW pada Siti khadijah, karena beliau sadar, tanpa peran dan pengorbanan yang diberikah oleh Khadijah selama dalam dakwahnya itu, maka dakwah yang pertama kali beliau lancarkan tidak akan sempurna, dan Siti Khodijahlah yang pertama kali beriman kepada Rasulullah SAW, serta menjaga Rosulullah di setiap saat, dari Khodjah pulalah Rosulullah mendapatkan keturunan.

Nah, bagaimanakah dengan anda wahai para suami yang budiman, adakah anda sadar apa yang telah anda lakukan selama ini, sudahkah anda membimbing istri anda dengan baik, jangan ada kebohongan dalam melaksanakan yang hak, karena kebohongan akan membawa trauma dan mempersulit keadaan.

Kebanyakan para suami terlupa akan tugas utamanya dalam rumah tangga, bila sudah tak tahan ingin melakukan poligami. Apapun akan dia lakukan, agar misinya berhasil, nikah diam-diam itu senjata utama, dan untuk berbagi waktu maka di gunakan alasan tugas kantor, atau si wanita yang berpura-pura tidak tahulah bahwa calon suaminya itu sudah berumah tangga, maka dia terima lamarannya, dan menikah.

Satu alasan yang tidak masuk akal, memang poligami bagi para suami dibolehkan, dan tidak diwajibkan untuk izin pada istri, namun secara ahsan dan akhlaq yang baik, apakah tidak diutamakan kejujuran dan mendiskusikan, apakah selama ini istrinya yang senantiasa setia disampingnya hanya jadi seonggok daging tak bernyawa, ketika sang suami ada keinginan untuk menikah lagi.

Cobalah pikirkan dengan kepala dingin dan mata terbuka lebar, wahai suami yang sholeh. Jangan sampai anda yang tadinya jadi panutan, gara-gara poligami jadi runutan dan cemoohan, anda yang dulunya mengutamakan kejujuran, gara-gara poligami jadi menghalalkan kebohongan, anda yang sangat menjaga kata-kata dengan baik, gara-gara hendak berpoligami kata-kata anda jadi kasar dan menyakitkan.

Pikirkan dulu dengan matang jangan sampai menyesal di kemudian hari, anda-kan tidak mungkin menukar keluarga anda dengan keluarga yang baru, sayangkan keluarga yang telah anda bina puluhan tahun, dengan anak-anak yang jadi penerus dakwah anda, kini putus di tengah jalan, hanya karena nafsu dan kesombongan anda yang tidak terkendali.

Syurga yang anda cari justru neraka yang anda dapat, di dunia saja anda sudah sensara karena perbuatan anda sendiri, apalagi di akhirat nanti, mau kemana anda berlari, bila yang hak saja sudah anda langgar, karena menyakiti istri, membuat hidup tak tenang, poligami pun tak bermanfaat, dakwah anda jadi terbengkalai, anak-anak anda pun menjadi pemurung dan menjauh dari keramaian.

…. Semoga bisa menjadi hikmah dan pelajaran yang baik buat para suami yang hendak berpoligami ….

Teruntuk sahabatku nan jauh di sana,
Allah mengetuk hatimu…
Allah sedang berbicara padamu
semoga bertambah sabar .. Allah mencintaimu… ukhtiku sayang… ( Siti Aminah khairuddin) – Ummu Mufais

…. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan ….

BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI
…. Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa’atuubu Ilaik …..

PENGORBANAN ISTERI YANG SERING TIDAK DISADARI SUAMI


Wanita adalah karunia terindah yang ada dan penting di dunia, tapi banyak perjuangan dan pengorbanan wanita tidak di ketahui pria.

1. Ketika suami menikah lagi dan perempuan berusaha menerima (karena alasan ekonomi atau agama atau alasan apapun), ia akan duduk sendiri di setiap malam dalam gelap kamar saat suaminya tengah mendekap mesra seorang perempuan lain di ranjang lain. Ia akan (mungkin) menangis karena terluka, tapi demi anak-anak ia akan berusaha menerimanya dengan sabar.

2. Sebagai isteri ia siap mengorbankan impian-impiannya demi mengurus suami (yang kadang bersifat kekanak-kanakan dan minta diurus) dan anak-anak yang bandel.

3. Ketika suami mencela masakannya, ia akan bersusah payah belajar masak dari siapapun untuk bisa menghidangkan makanan dengan rasa terbaik pada suami dan anak-anaknya.

4. Ia bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Jam kerjanya tak berbatas. Ia bangun ketika siapapun di rumah belum bangun, mulai bekerja, memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, lalu mengurus suami sebelum pergi kerja, mengurus anak-anak berangkat sekolah, ketika pakaian kering di jemuran ia akan mengangkatnya dan menyetrika dengan rapi.

5. Kemudian setelah begitu capek mengurus rumah tangga, malam giliran memenuhi ini itu suaminya. Mulianya seorang isteri adalah: tukang masak, tukang cuci, cleaning service, babu dan wanita penghibur digabung jadi satu.

6. Ketika suaminya menginginkan punya anak 4,5,6 atau 9 orang, ia sebagai isteri harus siap menderita mengandung anak dan bertarung nyawa melahirkannya. Suami kadang tidak terlalu paham penderitaan macam begini karena mereka tidak mengalaminya

7. Meski laki-laki tak paham benar, tapi Allah Maha Mengerti, karena itulah ia memberi reward pada pengorbanan perempuan. Bagi yang meninggal karena melahirkan anak, Tuhan langsung memberinya surga. Bagi isteri yang setia bekerja mengurus rumah tangganya, dengan sabar dan ikhlas, maka silahkanlah ia masuk surga dari pintu mana saja ia suka.

Hati Nurani Adalah Pusat Makna Tertinggi


Bismillah….
Hati nurani adalah pusat makna tertinggi kehidupan manusia atau ’the ultimate meaning’ yang paling berpengaruh dalam diri kita.
Sedangkan otak adalah hamba yang sangat patuh mengikuti setiap perintah hati nurani kita dalam kehidupan.

Keberhasilan dan kebahagiaan yang menjadi impian indah banyak manusia, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh impian hati nurani kita, bukan ditentukan oleh kecerdasan otak kita saja.

Hati yang memiliki impian indah menjadi pemenang dalam kehidupan akan berkreasi dan mencipta berbagai hal yang positif di dunia ini dan memerintahkan otak melakukan hal yang positif pula.

Otak sebagai hambanya hati akan selalu siap menerima instruksi dari hati nurani kita.

Ia patuh dan tunduk atas perintah apapun yang diberikan oleh hati kita kemudian meresponnya melalui indra kita.

Hati inilah yang menjadi pusat tertinggi yang memerintahkan pikiran manusia yang akan membentuk sikap dan karakater dirinya.

Intinya semua diawali dengan hati dan pikiran kita.
Bagaimana sikap dan karakter seseorang itu sangat dipengaruhi oleh bagaimana mereka mampu mengelola hati dan pikirannya.

Keberhasilan, kegagalan serta kegelisahan itu sesungguhnya dimulai dari hati dan pikiran kita sendiri.

Dengan demikian menyikapi kesulitan, kegagalan dengan menyalahkan faktor-faktor luar sebagai penyebab terhadap kesulitan hidup bukanlah cara yang bijaksana.

Yang perlu dilakukan adalah memulai mengubah dari dalam diri kita sendiri, terlepas seberapa buruknya keadaan diluar kita sendiri.

Menjadi sukses dan bahagia harus dimulai dari kemampuan kita mengelola hati dan mengarahkan pikiran kita menuju tujuan hidup yang benar.

Dalam bahasa Dalai Lama pada karyanya yang berjudul An Open Heart (Practicing Compassion in Everyday Life) dikatakan : “An open heart is an open mind. A change of heart is a change of mind.” (Hati yang terbuka adalah pikiran yang terbuka. Perubahan dalam hati adalah perubahan dalam pikiran dan perubahan dalam hidup kita).

Maka pusatkan perubahan dari dalam hati dan pikiran sendiri agar menjadi seorang pemenang kelak dikemudian hari. Aamiin…Wassalam

Manusia..!! mengapa harus seperti ini yang berlaku


Bismillaah …

Duhai jiwa, lihatlah waktu-waktu yang berlalu dihadapan kita dan perhatikan apa yang telah berlaku …

Sebagian kaum muslimin masih ada yang doyan dan ketagihan melakukan judi togel dan menenggak miras (minuman keras) di m
ana-mana. Begitu pula kaum muda-mudinya tenggelam dalam hura-hura dan foya-foya mengumbar nafsu tanpa kendali agama ..

Tidak kalah pentingnya pula, kaum wanita Islam yang dengan suka rela bahkan bangga dan gembira mengumbar aurat mereka di layar-layar kaca, dilembaran tabloid, media cetak bahkan dijalan raya …

Subhanallah! Ada apakah kaum muslimin dizaman ini?

Belum lagi kaum laki-lakinya yang sering meninggalkan shalat bukan karena alasan yang dibenarkan syari’at. Boro-boro shalat jama’ah dimasjid, untuk shalat saja malasnya bukan main … Allahu akbar! Ada apakah kaum muslimin kala ini?

“Kalau seandainya para penduduk negeri-negeri itu mau beriman dan bertaqwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan dari bumi.

Akan tetapi mereka justru mendustakan, maka Kami pun akan menyiksa mereka akibat pendustaan yang mereka lakukan.”

(al A’raaf: 96).

Iman tidak hanya berhenti didalam dada, akan tetapi ia akan melahirkan kesadaran dan ketulusan hati mencintai kebaikan bagi saudara-saudaranya. Anas bin Malik radhiyallaahu ’anhu meriwayatkan, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak (sempurna) iman salah seorang dari kalian hingga dia mencintai (kebaikan) bagi saudaranya sebagaimana yang dia senangi untuk dirinya sendirinya.”

(HR. Bukhari: 13).

Duhai jiwa! Seandainya kita tahu apa yang kita lakukan salah dan berdosa …

Renungkanlah apa yang telah dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullaah:

“Pokok kemaksiatan yang besar maupun yang kecil ada tiga:

Pertama: Ketergantungan hati kepada selain Allaah.
Kedua: Memperturutkan kekuatan angkara murka.
Ketiga: Mengekor kekuatan nafsu syahwat.

Ketiga hal itu adalah: Syirik, kezaliman, dan perbuatan-perbuatan keji. Puncak dari ketergantungan hati kepada selain Allaah adalah kesyirikan dan menjadikan selain Allaah sebagai sesembahan lain di sampingNya. Puncak dari memperturutkan kekuatan angkara murka adalah terjadinya pembunuhan. Sedangkan puncak dari mengekor kekuatan nafsu syahwat adalah perzinaan …

Ketiga hal ini saling menyeret sebagiannya kepada sebagian yang lain …

(Al-Fawa’id: 78-79).

Wal ‘iyadzubillaah!

Allaahu a’lam.

Duhai jiwa!


Bismillaah …

Kegagalan dapat dibagi menjadi beberapa sebab ..
Salah satunya adalah orang yang bertindak namun tidak pernah berpikir (beramal tanpa ilmu) dan orang yang berpikir namun tidak pernah bertindak (berilmu tanpa amal) ..

Kegaga
lan yang paling besar malapetakanya, kerugian total penuh penyesalan adalah tatkala kita hidup didunia ini, namun tidak mampu memupuknya menjadi ladang yang subur buat meraih akhirat yang abadi.

Wahai, jiwa…
Termasuk golongan manakah engkau?
Apakah akan digolongkan didalam golongan mereka yang mampu meraih keuntungan?

Ataukah orang yang merugi, gagal lagikan celaka?

Imam Bukhari rahimahullaah membuat sebuah bab didalam Shahihnya dalam Kitab ‘ar-Riqaq’ (Pelembut Hati) dengan judul:

‘Man nuuqisyal hisaab ‘udzdziba’ (Orang yang didebat ketika dihisab amalnya, maka pasti akan diadzab).

Kemudian beliau membawakan riwayat dari Aisyah radhiyallaahu ’anha, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Barangsiapa yang didebat ketika dihisab maka pasti akan diadzab.”

Aisyah radhiyallaahu ‘anha berkata:

“Bukankah Allaah Ta’ala berfirman:

“Maka kelak dia akan dihisab dengan mudah.”

(QS. al-Insyiqaq: 8).

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallama menjawab:

“Yang dimaksud oleh ayat itu adalah ditampakkan catatan amal kepadanya.”

(HR. Bukhari: 6536 dan Muslim: 2876).

Masih dari Ummahatul Mukminin, Aisyah radhiyallaahu’anha, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada seorang pun yang dihisab melainkan dia pasti binasa.”

Aku (Aisyah) berkata:

“Bukankah Allaah berfirman tentang adanya hisab yang ringan?”

Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Yang dimaksud adalah sekedar ditampakkannya catatan amal. Namun, barangsiapa yang didebat ketika hisab, maka dia pasti binasa.”

(HR. Bukhari: 6537 dan Muslim: 2876).

Duhai jiwa! Golongan manakah kau akan dicampakkan kelak?!

Allaahu a’lam.

Seorang muslimah itu


Bismillah…………..

Seorang muslimah itu …
yang lembut fitrah tercipta,

halus kulit, manis tuturnya,
entur hati …
telus wajahnya,
setelus rasa membisik di jiwa,
di matanya cahaya,
dalamnya ada air,
sehangat cinta,
sejernih suka,
sedalam duka,
ceritera hidupnya ..

Seorang muslimah itu …

hatinya penuh Cinta,
penuh kasih sayang,
semuanya,
cinta untuk diberi …
kasih untuk dirasa …

namun Cintanya
bukan untuk semua,
bukan untuk permainan
atau dijadikan Boneka,
atau kelemahan dunia …
ia bisa kuat,
bisa jadi tabah,
bisa ampuh menyokong,
pahlawan-pahlawan dunia …

begitu unik tercipta,
lembutnya bukan lemah,
tabahnya tak perlu pada
jasad yang gagah …

Seorang muslimah itu …

teman yang setia,
buat Adam dialah Hawa,
tetap di sini …
dari indahnya jannah,
hatta ke medan dunia,
hingga kembali mengecap ni’matNya
bersatu mengapai Redha Illahi…

Seorang muslimah itu …
bisa seteguh Khadijah,
yang suci hatinya,
tabah & tenang sikapnya,
teman ar-Rasul,
pengubat duka & laranya …

Bijaksana ia,
menyimpan يlmu,
si teman bicara,
dialah ءishah,
penyeri taman Rasulullah,
dialah Hafsah,
penyimpan mashaf pertama kalamullah …

Seorang muslimah itu …

bisa setabah Maryam,
meski dicaci meski dikeji,
itu hanya cerca manusia,
namun sucinya ALLah memuji …

seperti Fatimah kudusnya,
meniti hidup seadanya,
puteri Rasulullah …
kesayangan ayahanda,
suaminya si panglima agama,
di belakangnya dialah pelita,
cahaya penerang segenap rumahnya,
ummi tersayang cucunda Baginda …

bisa jadi segagah Nailah,
dengan dua tangan
tegar melindung khalifah,
meski akhirnya bermandi darah,
meski akhirnya khalifah rebah,
syaheed menyahut panggilan Allah .

Seorang muslimah itu …

perlu ada yang membela,
agar ia terdidik jiwa,
agar ia terpelihara …
dengan cinta Rabbnya,
dengan rindu Rasulnya …

dengan yakin Deennya,
dengan teguh لqidahnya,
dengan utuh cinta yang terutama,
Allah dan juga RasulNya,
dalam ketaatan penuh setia .
pemelihara maruah dirinya,
agama, keluarga & ummahnya …

Seorang muslimah itu …

melenturnya perlu kasih sayang,
membentuknya perlu kebijaksanaan,
kesabaran dan kemaafan,
keyakinan & penghargaan,
tanpa jemu & tanpa bosan,
memimpin tangan, menunjuk jalan …

Seorang muslimah itu …
yang hidup di alaf ini,
Terus berjuang,
era hidupnya perlu berdikari …

dirinya terancam dek fitnah,
hatinya perlu tabah,
cintanya tak boleh berubah,
tak bisa terpadam dek helah,
dek keliru fikir jiwanya,
kerna dihambur ucapkata Cinta palsu,
hanya kerana dunia memperdaya …

Kerna Seorang muslimah itu,
yang hidup di zaman ini …

perlu teguh pendiriannya,
mantap iman mengunci jiwanya,
dari lemah & kalah,
dalam pertarungan yang lama …
dari rebah & salah,
dalam perjalanan mengenali Tuhannya,
dalam perjuangan menggapai cinta,
ni’mat hakiki seorang hamba,
dari Allah yang menciptakan,
dari Allah yang mengurniakan,

Seorang muslimah itu …
anugerah istimewa kepada dunia!

Seorang muslimah itu …
tinggallah di dunia,
sebagai لbidah,
daيyah & mujahidah,
pejuang ummah …
anak ummi & ayah,
muslimah yang solehah …

kelak jadi ibu,
membentuk anak-anak ummah,
rumahnya taman ilmu,
Taman budi & ma’rifatullah …
seorang gadis itu …
moga akan pulang,
dalam cinta & dalam sayang,
redha dalam keredhaan,
Tuhan yang menentukan …
seorang gadis itu dalam kebahagiaan!

Moga ar-Rahman melindungi,
merahmati dan merestui,
perjalanan Seorang muslimah itu …
menuju cintaNYA yang ABADI…..

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)


Pernahkah terpikirkan bahwa kita tengah berada dalam anugerah yang tiada ternilai dari Dzat yang memiliki kerajaan langit dan bumi, sementara begitu banyak orang yang dihalangi untuk memperolehnya?

Kita bisa tahu ajaran yang benar dari agama Islam ini. Tahu ini haq, itu batil… Ini tauhid, itu syirik…. Ini sunnah, itu bid’ah… Lalu kita dimudahkan untuk mengikuti yang haq dan meninggalkan yang batil. Sementara, banyak orang tidak mengerti mana yang benar dan mana yang sesat, atau ada yang tahu tapi tidak dimudahkan baginya untuk mengamalkan al-haq, malah ia gampang berbuat kebatilan.

Kita dapat berjalan mantap di bawah cahaya yang terang-benderang, sementara banyak orang yang tertatih meraba dalam kegelapan.

Kita tahu apa tujuan hidup kita dan kemana kita kan menuju. Sementara, ada orang-orang yang tidak tahu untuk apa sebenarnya mereka hidup. Bahkan kebanyakan mereka menganggap mereka hidup hanya untuk dunia, sekadar makan, minum, dan bersenang-senang di dalamnya.

Apa namanya semua yang kita miliki ini, wahai saudariku, kalau bukan anugerah terbesar, nikmat yang tiada ternilai? Inilah hidayah dan taufik dari Allah kepada jalan-Nya yang lurus.

Dalam Tanzil-Nya, Allah berfirman:

“Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Al-Baqarah: 213)

Fadhilatusy Syaikh Al-’Allamah Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menerangkan dalam tafsirnya bahwa hidayah di sini maknanya adalah petunjuk dan taufik. Allah berikan hidayah ini kepada orang yang pantas mendapatkannya, karena segala sesuatu yang dikaitkan dengan kehendak Allah maka mesti mengikuti hikmah-Nya. Siapa yang beroleh hidayah maka memang ia pantas mendapatkannya. (Tafsir Al-Qur’anil Karim, 3/31)

Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah ketika menjelaskan ayat:

beliau berkata, “Allah tidak meletakkan hidayah di dalam hati kecuali kepada orang yang pantas mendapatkannya. Adapun orang yang tidak pantas memperolehnya, maka Allah mengharamkannya beroleh hidayah tersebut. Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Memiliki hikmah, Maha Mulia lagi Maha Tinggi, tidak memberikan hidayah hati kepada setiap orang, namun hanya diberikannya kepada orang yang diketahui-Nya berhak mendapatkannya dan dia memang pantas. Sementara orang yang Dia ketahui tidak pantas beroleh hidayah dan tidak cocok, maka diharamkan dari hidayah tersebut.”

Asy-Syaikh yang mulia melanjutkan, “Di antara sebab terhalangnya seseorang dari beroleh hidayah adalah fanatik terhadap kebatilan dan semangat kesukuan, partai, golongan, dan semisalnya. Semua ini menjadi sebab seseorang tidak mendapatkan taufik dari Allah . Siapa yang kebenaran telah jelas baginya namun tidak menerimanya, ia akan dihukum dengan terhalang dari hidayah. Ia dihukum dengan penyimpangan dan kesesatan, dan setelah itu ia tidak dapat menerima al-haq lagi. Maka di sini ada hasungan kepada orang yang telah sampai al-haq kepadanya untuk bersegera menerimanya. Jangan sampai ia menundanya atau mau pikir-pikir dahulu, karena kalau ia menundanya maka ia memang pantas diharamkan/dihalangi dari hidayah tersebut. Allah berfirman:

“Maka tatkala mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati-hati mereka.” (Ash-Shaf: 5)

“Dan begitu pula Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada awal kalinya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (Al-An’am: 110) [I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, 1/357]

Perlu engkau ketahui, hidayah itu ada dua macam:

1. Hidayah yang bisa diberikan oleh makhluk, baik dari kalangan para nabi dan rasul, para da’i atau selain mereka. Ini dinamakan hidayah irsyad (bimbingan), dakwah dan bayan (keterangan). Hidayah inilah yang disebutkan dalam ayat:

“Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) benar-benar memberi hidayah/petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)

2. Hidayah yang hanya bisa diberikan oleh Allah , tidak selain-Nya. Ini dinamakan hidayah taufik. Hidayah inilah yang ditiadakan pada diri Rasulullah n, terlebih selain beliau, dalam ayat:

“Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) tidak dapat memberi hidayah/petunjuk kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Qashash: 56)

Yang namanya manusia, baik ia da’i atau selainnya, hanya dapat membuka jalan di hadapan sesamanya. Ia memberikan penerangan dan bimbingan kepada mereka, mengajari mereka mana yang benar, mana yang salah. Adapun memasukkan orang lain ke dalam hidayah dan memasukkan iman ke dalam hati, maka tak ada seorang pun yang kuasa melakukannya, karena ini hak Allah semata. (Al-Qaulul Mufid Syarhu Kitabit Tauhid, Ibnu Utsaimin, sebagaimana dinukil dalam Majmu’ Fatawa wa Rasa’il beliau, 9/340-341)

Saudariku, bersyukurlah kepada Allah ketika engkau dapati dirimu termasuk orang yang dipilih-Nya untuk mendapatkan dua hidayah yang tersebut di atas. Karena berapa banyak orang yang telah sampai kepadanya hidayah irsyad, telah sampai padanya dakwah, telah sampai padanya al-haq, namun ia tidak dapat mengikutinya karena terhalang dari hidayah taufik. Sementara dirimu, ketika tahu al-haq dari al-batil, segera engkau pegang erat yang haq tersebut dan engkau empaskan kebatilan sejauh mungkin. Berarti hidayah taufik dari Rabbul Izzah menyertaimu. Tinggal sekarang, hidayah itu harus engkau jaga, karena ia sangat bernilai dan sangat penting bagi kehidupan kita. Ia harus menyertai kita bila ingin selamat di dunia, terlebih di akhirat. Bagaimana tidak? Sementara kita di setiap rakaat dalam shalat diperintah untuk memohon kepada Allah hidayah kepada jalan yang lurus.

“Tunjukilah (berilah hidayah) kami kepada jalan yang lurus.” (Al-Fatihah: 6)

Bila timbul pertanyaan, bagaimana seorang mukmin meminta hidayah di setiap waktu shalatnya dan di luar shalatnya, sementara mukmin berarti ia telah beroleh hidayah? Bukankah dengan begitu berarti ia telah meminta apa yang sudah ada pada dirinya?

Al-Hafizh Ibnu Katsir t memberikan jawabannya: Allah lmembimbing hamba-hamba-Nya untuk meminta hidayah, karena setiap insan membutuhkannya siang dan malam. Seorang hamba butuh kepada Allah setiap saat untuk mengokohkannya di atas hidayah, agar hidayah itu bertambah dan terus-menerus dimilikinya. Karena seorang hamba tidak dapat memberikan kemanfaatan dan tidak dapat menolak kemudaratan dari dirinya, kecuali apa yang Allah l kehendaki. Allah pun membimbing si hamba agar di setiap waktu memohon kepada-Nya pertolongan, kekokohan, dan taufik. Orang yang bahagia adalah orang yang diberi taufik oleh Allah untuk memohon hidayah, karena Allah telah memberikan jaminan untuk mengabulkan permintaan orang yang berdoa kepada-Nya di sepanjang malam dan di pengujung siang. Terlebih lagi bila si hamba dalam kondisi terjepit dan sangat membutuhkan bantuan-Nya. Ini sebanding dengan firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya…” (An-Nisa’: 136)

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan orang-orang yang telah beriman agar tetap beriman. Ini bukanlah perintah untuk melakukan sesuatu yang belum ada, karena yang dimaukan dengan perintah beriman di sini adalah hasungan agar tetap tsabat (kokoh), terus-menerus dan tidak berhenti melakukan amalan-amalan yang dapat membantu seseorang agar terus di atas keimanan. Wallahu a’lam. (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 1/38)

Berbahagialah dengan hidayah yang Allah l berikan kepadamu dan jangan biarkan hidayah itu berlalu darimu. Mintalah selalu kekokohan dan keistiqamahan di atas iman kepada Dzat Yang Maha Mengabulkan doa. Teruslah mempelajari agama Allah. Hadirilah selalu majelis ilmu. Dekatlah dengan ulama, cintai mereka karena Allah. Bergaullah dengan orang-orang shalih dan jauhi orang-orang jahat yang dapat merancukan pemahaman agamamu serta membuatmu terpikat dengan dunia. Semua ini sepantasnya engkau lakukan dalam upaya menjaga hidayah yang Allah anugerahkan kepadamu. Satu lagi yang penting, jangan engkau jual agamamu karena menginginkan dunia, karena ingin harta, tahta, dan karena cinta kepada lawan jenis. Sekali-kali janganlah engkau kembali ke belakang. Kembali kepada masa lalu yang suram karena jauh dari hidayah dan bimbingan agama. Ingatlah:

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)

Kata Al-Imam Al-’Allamah Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi t, “Kebenaran dan kesesatan itu tidak ada perantara antara keduanya. Maka, siapa yang luput dari kebenaran mesti ia jatuh dalam kesesatan.” (Mahasinut Ta’wil, 6/24)

Lalu apa persangkaanmu dengan orang yang tahu kebenaran dari kebatilan, semula ia berjalan di atas kebenaran tersebut, berada di dalam hidayah, namun kemudian ia futur (patah semangat, tidak menetapi kebenaran lagi, red.) dan lisan halnya mengatakan ‘selamat tinggal kebenaran’? Wallahul Musta’an. Sungguh setan telah berhasil menipu dan mengempaskannya ke jurang yang sangat dalam.

Ya Allah, wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, di atas ketaatan kepada-Mu. Amin ya Rabbal ‘alamin ….

Kiat Mendidik Anak Mencintai Al Qur’an


Salah satu indikasi orang tua yang mendapat kebahagiaan akhirat adalah ketika anak-anak mereka menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah. Mendidik anak menjadi shalih/ah salah satunya dengan menjadikan mereka mencintai Al Qur’an.

1. Kewajiban orang tua membangun keteladanan dalam praktek semua kehidupan, tidak hanya Al Quran. Bahasa praktek lebih fasih daripada bahasa teori. Contohnya saja ketika kita mengajarkan shalat kepada seseorang kalau hanya dengan memberikan buku, dalam waktu seminggu mungkin orang tersebut belum bisa melakukan shalat dengan benar. Jadi perlu diberikan contoh nyata. Sebagian manusia belajar dari praktek. Maka, setiap hari praktekkan Al Quran. Anak-anak itu akan selalu merekam suasana/kebiasaan yang dilakukan oleh orang tuanya.

Rumah yang baik adalah rumah yang berfungsi sebagai masjid dan sekolah, menjadi tempat ibadah dan belajar. Jangan jadikan rumah sebagai rumah pasar, isinya terus-menerus mengurusi uang, kekayaan, untung rugi. Atau bahkan ring tinju atau sarana pertengkaran. Untuk itu yang pertama kali mengkondisikan dan menerapkan konsep ini adalah bapak ibunya.

2. Mengajarkan Al Qur’an.

Apa yang disebut mengajarkan Al Qur’an? Yang dimaksud mengajarkan adalah agar anak bisa melafalkan bunyi Al Quran. Kebanyakan para orang tua mulai membuat anak melek huruf di usia 3.5 tahun. Sebenarnya lebih luas. Mengajarkan Al Qur’an tidak terbatas pada mereka melek huruf, tetapi mulai melatih lisan anak kita membunyikan lafal Al Quran dengan cara mentasmi’/memperdengarkan Al Qur’an dan itu tidak perlu menunggu usia anak mencapai 3.5 tahun. Mulai anak lahir bahkan mulai anak masih di dalam kandungan.

Mengapa tahapan ini penting? Indera yang sangat penting yang dimiliki manusia andalah pendengaran. Indera pertama dan terakhir yang berfungsi pada diri manusia juga pendengaran. Bayi yang baru saja lahir disunnahkan untuk diadzankan karena ia sudah mampu merespon adzan. Ketika manusia mengalami sakaratul maut yang dianjurkan adalah membisikkan Laa illaha illa Allah. karena indera yang berfungsi adalah pendengaran.

Ayat inna sam’a wal bashara (sesungguhnya pendengaran dan penglihatan) dalam Al Qur’an diulang 13x. Mendahulukan pendengaran daripada penglihatan.

Indera pendengaran mempunyai nilai lebih dalam pengajaran. Kalau mati lampu, indera yang bekerja adalah pendengaran. Kalau belajar bahasa, yang utama adalah listening. Kita tinggal di negeri asing walau belum pernah belajar tulisan, kalau sering mendengar percakapan akan lebih mudah. Sering pula kita dapati anak seorang penyanyi kelak menjadi penyanyi karena sering mendengar orang tuanya menyanyi. Surat Yasin hafal padahal tidak pernah menghafal tapi sering mendengar dibacakan dalam majelis.

Oleh karena itu, fungsikan indera pendengaran semaksimal mungkin, bisa orang tua sering membacakan, mendengarkan murottal, dan lain-lain. Dengan demikian, anak akan mudah mengartikulasikan bunyi Al Quran dengan baik.

Jadi kiat yang kedua adalah sering mendengarkan dan sering membacakan. Al Quran diwariskan dari generasi ke generasi juga dengan tasmi’ (metode mendengar). Dengan demikian, walaupun anak belum belajar tajwid, dia akan bisa membaca dengan baik.

3. Orang tua menciptakan lingkungan atau bila tidak memungkinkan, masukkan ke pesantren yang baik

4. Memberikan nasihat terus menerus tentang keutamaan Al Qur’an hingga merasuk ke dalam jiwa anak

5. Membangun kebiasaan.

Kebiasaan dibangun tidak hanya waktu kecil tetapi terus sampai dewasa. Kebiasaan dibuat sampai otomatis anak bisa melakukan walau tanpa ada perintah. Misal kebiasaan bangun sebelum subuh, kebiasaan tilawah setelah subuh dan diantara waktu maghrib dan Isya, dan kebiasaan-kebiasaan Qur’ani lainnya

6. Menghargai prestasi kemajuan walaupun sedikit. Reward diberikan atas prestasi yang diraih. Tentunya reward dalam bentuk yang baik dan bermanfaat, bisa berupa tabungan, rihlah (tamasya), hadiah buku, hadiah umrah bila mencapai hafidz, dan sebagainya.

Namun tentu saja orang tua tetap berusaha memberikan penyadaran, sehingga ketika anak sudah lebih besar mereka paham bahwa apa yang dilakukannya adalah bagian dari ibadah. Jadi tidak terus-menerus memberikan reward berupa hadiah-hadiah semacam di atas.

7. Doa

The last but not the least adalah doa yang tulus dan sungguh-sungguh dari orang tua, memohon bimbingan Allah SWT agar selalu menjaga anak-anak kita dimanapun mereka berada.

Blog Abu Hudzaifah

Menghidupkan Sunnah Mematikan Bid'ah

Addariny's --- Centre

Meniti Jejak, Para Salafus Sholih yg Bijak

Aisyna haniifah

sibukkanlah dirimu dengan karya yang bisa mengharumkan namamu di hari akhir

bloginismeiga

Ekspresikan Diri dengan Cerita

Perkembangan Islam di Nusantara

merenung Islam masa lalu, merekam Islam masa kini, mereka Islam masa depan

Catatan Cinta Sahaja

AKU BELAJAR DARI KALIAN DAN AKU MENULISKANNYA

Cahyaiman's Blog

A fine WordPress.com site

Ideological Thinker

We write to SPEAK UP

Indonesian Blogwalker

There are far better things ahead than any we leave behind

Draft Corner

A Place for a Dreamer

Perjalanan Panjang

Tentang Hidup, Asa dan Cinta

blognoerhikmat

lihat dengan kata.baca dengan hati

Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Abdullah Adnan

Blogger | Motovlogger

Jendela Puisi

serumpun puisi dari hati yang merindu

DewanSyura Weblog

Just another WordPress.com weblog

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Barbados Underground

Bringing News and Opinions to the People

Michael Powers 1:1 Photography.

Self portraits, every day.

Latinaish

A community for bilingual, bicultural gente

Fragriver

Finding a place in this world...