Merdeka di bulan Ramadan

Ramadan, dari kata ramada – yarmidu (bahasa apa UKHTI? bahasa timbuktu, dek!! Ya bahasa arab, laah). Maknanya ‘panas, gerah, berat’. Ini untuk menyebut suatu kondisi musim yang panas menyengat di mana Ramadan itu tiba.

Di Indonesia, Ramadan tahun ini bertepatan dengan bulan Agustus –yang tentu kita tau, adalah bulan perayaan kemerdekaan negara kita tercintah. Sepertinya asyik banget yah. Merayakan party tujuh belasan sekalian dengan puasa. Seru, sekaligus berpahala.

Ironisnya, ternyata Ramadan tidak benar-benar merdeka. Malah, ada beberapa pihak yang justru membelenggu kemerdekaan. Misalnya, kasus warung-warung makan yang dipaksa tutup ketika siang hari. Atau tempat-tempat hiburan yang bukan hanya ditutup, tapi dirusak dan dihancurkan.

Puasa, as far as I known, adalah ibadah personal. Meskipun dikerjakan bareng-bareng bersama keluarga, teman dan orang-orang Islam sedunia –ibadah puasa itu dilakukan secara individual. Maksudnyah, puasa yang saya kerjakan gak ada kaitannya dengan orang lain. Saya laper, yang laper saya sendiri.

Namun, yeah, ada beberapa orang yang ngerasa kalau puasa itu harus berame-rame. Ane puasa, ente juga harus puasa! Ente gak boleh makan! Gak boleh maksiyat!! Gak boleh goda-godain ane!!!!

LAH?! Puasa itu kan MENAHAN godaan, bukan MENGHILANGKAN godaan.

Enak banget yah keknya, puasa petentang-petenteng gak ada godaan. Di sekeliling, semua orang juga pada berpuasa. Tinggal menjalani saja, bersama-sama. Gak seru!

‘Orang-orang itu’ paham sekali bahwa mayoritas agama di Indonesia itu Islam, kemudian mungkin tanpa sadar merasa bahwa negara ini adalah negara Islam. Mereka engga pernah merasakan menjadi minoritas. Coba sekali-kali mereka dikirim pasanan di pulau Bali.

Coba mereka merasakan, seperti cerita Iphann yang pernah tinggal di Bali. Kemarin dia sempat men-twit-kan sekelumit cerita tentang kehidupan Ramadan di Bali. Bagaimana godaan puasa di pulau dewata yang sungguh luar biasa: restoran fast food gak perlu pake tirai, warung tetep buka, dsb. Teman-teman Iphan di Bali juga sangat menghargai. Misalnya ketika, tanpa sadar makan di waktu istirahat sekolah –mereka langsung minta maaf. Mereka penuh toleransi. Gak pernah gangguin orang yang puasa. Bagi yang puasa? Biasa aja. Udah punya iman!!

Lha ini sepertinya kebalik; orang-orang yang berpuasa malah justru gangguin orang-orang yang engga berpuasa. Ngerusak seenaknya. Maksa nutup warung seenaknya. Bahkan di suatu daerah, ada aturannya dari Pemerintah. Wow!

Memang situ aja yang puasa? Mereka yang sakit, mereka yang musafir gimana, mereka yang engga dikenai kewajiban puasa gimana? Saya bingung, tujuan dan alasan maksa warung ditutup ini apaa?

Abah saya menyebutnya sebagai “kekerdilan diri” atau tidak percaya diri. Tidak percaya bisa kuat puasa kalau ada warung yang buka.

Abah juga bilang; padahal kalau warung banyak yang buka dan kita tetap melaksanakan ibadah puasa, berarti makna pengendalian diri kita menjadi lebih. Artinya, kita memang betul-betul mampu mengendalikan diri. Tidak ada urusan, kita meminta orang lain untuk membantu puasa kita. Puasa sendiri kok minta bantuan orang lain?

Loh, tapi Ramadan ini kan suci! Kita perlu menghormati bulan Ramadan!

Oh, please. Tanpa perlu kita hormati, dari duluuuu –Ramadan itu juga udah suci. Udah mulia tanpa perlu dimuliakan. Sama kayak kita mengecat emas dengan cat warna emas, gak guna banget kan?

Kenapa di saat Ramadan, dan bahkan di saat perayaan kemerdekaan Indonesia malah ada warga yang merasa tidak merdeka? Ada yang merasa kerdil, ada yang merasa enggak percaya diri..

Hayoo. Apakah kita sudah benar-benar merdeka?

About AMS

....Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka”,(Abu Bakar As-Shiddiq ra) " bagiMulah segala puja puji, dgn hati badan dan lisanku.....

Posted on 9 Agustus 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Merdeka di bulan Ramadan.

Komentar ditutup.

Abu Salma

Homepage Pribadi Abu Salma Muhammad

Blog Abu Hudzaifah

Menghidupkan Sunnah Mematikan Bid'ah

Addariny's --- Centre

Meniti Jejak, Para Salafus Sholih yg Bijak

Aisyna haniifah

sibukkanlah dirimu dengan karya yang bisa mengharumkan namamu di hari akhir

bloginismeiga

Ekspresikan Diri dengan Cerita

Perkembangan Islam di Nusantara

merenung Islam masa lalu, merekam Islam masa kini, mereka Islam masa depan

Catatan Cinta Sahaja

AKU BELAJAR DARI KALIAN DAN AKU MENULISKANNYA

Cahyaiman's Blog

A fine WordPress.com site

Dandelion Seed

'writing' is the only way for me to speak up

KAMI DARI SEMUA : IndonesiAn BlogWalker

Blogging... Way I Get Relax a little while Learning     

Draft Corner

A Place for a Dreamer

Perjalanan Panjang

Tentang Hidup, Asa dan Cinta

blognoerhikmat

lihat dengan kata.baca dengan hati

Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Abdullah Adnan

Personal Blog of Abdullah Adnan

Jendela Puisi

serumpun puisi dari hati yang merindu

DewanSyura Weblog

Just another WordPress.com weblog

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Barbados Underground

Barbados News, Politics, Opinions, Sports, Culture, Religion and Media

Michael Powers 1:1 Photography.

Self portraits, every day.

%d blogger menyukai ini: