Menahan diri

Bagi sebagian besar perempuan, mengendalikan emosi dan perasaan bukan hal yang mudah. Ada saat-saat tertentu dimana kami merasa hidup ini begitu absurd. Hal-hal kecil yang biasanya kami anggap sepele bisa jadi pencetus kemarahan di waktu tertentu.

Dulu saya masih sering mengkambing hitamkan hormon dan kondisi-kondisi diriku yang berada di luar kontrolku. Walau pun ternyata hal tersebut nggak berlaku di beberapa temanku, perubahan dalam diri rasanya masih mengundang reaksi tertentu. Jadi kalau ada beberapa perempuan yang tiba-tiba tantrum dan berdalih sedang PMS, bisa jadi dia benar.

Tetapi semua berubah ketika saya membaca salah satu tulisan di buku, dan itu sangat membantu saya

“Coba sekarang dipikir, seberapa besar sih peran hormon pada hidup kita? Nggak segitu besar, kok. Kita masih punya pikiran, masih punya hati, masih punya iman. Jadi kalau kita cuma memperturutkan hormon, artinya kita tidak memfungsikan yang lainnya. Kalau kayak gitu apa namanya? Kufur kan?”

Dan saya hanya bisa tersenyum pahit. Karena kebenaran itu sudah datang, maka penghambaan pada hormon dan semacamnya perlahan mulai kutinggalkan. Meski saya bukan orang yang ekspresif, kadang emosi yang nggak baik itu masih bisa tercermin di mimik wajah atau cara bicaraku dan berpotensi menyakiti orang atau memperkeruh keadaan. Saya mulai mempelajari pola perubahan diri sendiri dan manajemen emosi supaya nggak lepas kontrol.

Hingga suatu saat teman dekatku pernah melontarkan pertanyaan yang membuatku berfikir, “Na’ kamu pernah marah nggak, sih? Jangan ditahan-tahan kalau marah Na’, keluarin aja semuanya. Nggak baik, lho.” Melihat saya yang diam saja dengan wajah ditekuk, dia menganalogikan emosi yang tertahan itu dengan gunung meletus.

Setelah menjawab bahwa saya juga manusia yang masih bisa marah dan bagaimana caraku mengontrol emosiku, ada pergulatan pikiran dalam diriku.

“Iya, ya. Kenapa saya menahan-nahan diri? Kenapa orang lain bebas aja gitu bisa puas mengumpat seisi kebun binatang? Kenapa saya nggak bebas meluapkan emosiku? Kenapa saya cuma bisa diam? Kenapa saya merasa bersalah ketika marah padahal yang lain biasa aja? Dimana kebebasan berekspresi saya? Hehh kuingin maraaah.”

Satu hal yang menjagaku tetap waras ketika emosi melanda adalah perasaan takut menyesal. Saya nggak ingin mengulangi penyesalan yang pernah ada karena lepas kontrol. Emosiku hanya muncul dalam beberapa menit, tapi reaksi yang saya berikan mungkin bisa berbekas di diri orang yang saya sayangi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Jangan sampai karena emosi setitik, rusak ukhuwah sebelanga.

Meski begitu, kadang saya masih merasa berhak marah dan memasang wajah cemberut atau ketus dalam berucap.

Tapi ternyata Allah masih terus menuntunku dan mengingatkanku, bahwa menjadi muslim memang seistimewa itu. Alhamdulillah. Alhamdulillaaah. Pada suatu pagi, setelah melakukan aktivitas ibadah sholat Subuh, satu bagian kitab Riyadhus Shalihin dibacakan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang keutamaan orang yang dapat menahan amarahnya, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ مَا شَاءَ.

Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai. (Hasan. HR Ahmad (III/440), Abu Dawud (no. 4777), at-Tirmidzi (no. 2021), dan Ibnu Majah (no. 4286)

MasyaAllah. Meski mungkin saya nggak minta bidadari., tapi membayangkan dipanggil Allah di hadapan seluruh makhluk itu rasanya menggetarkan hati. Ya iyakan, panggilan kehormatan. Semoga kita bisa jadi salah satu diantaranya ya.

Hadist tersebut jadi pembuka untuk hatiku, bahwa menahan diri untuk tidak meluapkan amarah sembarangan itu nilainya besar di sisi Allah. Bahkan dikatakan kepada Ibnu Mubarak rahimahullah , “Kumpulkanlah untuk kami akhlak yang baik dalam satu kata!” Beliau menjawab, “Meninggalkan amarah.

Semakin banyak saya mencari tahu, semakin aku kagum dengan agama ini. Allah tahu sifat manusia yang mudah marah, maka Ia menciptakan tuntunan agar kemarahan itu nggak bersifat destruktif.

Jadi ternyata memang begitu ya. Sejak kita menyadari diri bahwa Allah dan Islam yang akan menuntun jalan hidup kita, kita nggak bisa bertindak dengan standar yang berlaku di masyarakat. Apa bedanya manusia dengan makhluk hidup yang lain kalau emosi aja nggak bisa ngontrol? Apa esensi hidup kalau cuma untuk melayani hawa nafsu? Dimana letak kebaikan Hidup ini?

Bismillah. Semoga Setiap mau marah kita ingat Allah. Belajar menjadi insan istimewah di hadapan Allah.. Semoga Allah menjadikan kita insan istimewah di Hadapan Makhluknya.. Subhanallah Walhamdulillah.

 

About AMS

....Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka”,(Abu Bakar As-Shiddiq ra) " bagiMulah segala puja puji, dgn hati badan dan lisanku.....

Posted on 22 Oktober 2018, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Menahan diri.

Komentar ditutup.

Laporan Aktual

Memilih Kabar Dari Sumber Terpercaya

Masshar2000

One Stop Reading

Muslimah Daily

Allah bersamamu. Tidakkah Allah Cukup Bagimu

Pena Syariah

MENJADI KUMPULAN PENULIS YANG MENERAJUI PENULISAN BERASASKAN SHARIAH MENJELANG TAHUN 2025

Jadikan Viral!

biar semakinra.me!

Blog Abu Hudzaifah

Menghidupkan Sunnah Mematikan Bid'ah

Addariny's --- Centre

Meniti Jejak, Para Salafus Sholih yg Bijak

Aisyna haniifah

sibukkanlah dirimu dengan karya yang bisa mengharumkan namamu di hari akhir

bloginismeiga

Ekspresikan Diri dengan Cerita

Perkembangan Islam di Nusantara

merenung Islam masa lalu, merekam Islam masa kini, mereka Islam masa depan

Catatan Cinta Sahaja

AKU BELAJAR DARI KALIAN DAN AKU MENULISKANNYA

Cahyaiman's Blog

A fine WordPress.com site

Ideological Thinker

We write to SPEAK UP

Indonesian Blogwalker

There are far better things ahead than any we leave behind

Draft Corner

A Place for a Dreamer

Perjalanan Panjang

Tentang Hidup, Asa dan Cinta

blognoerhikmat

lihat dengan kata.baca dengan hati

Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Jendela Puisi

serumpun puisi dari hati yang merindu

%d blogger menyukai ini: