Terbit

Saya nggak pernah menyangka akan kembali berada di sini, berhadapan dengan dashboard WordPress yang dulu sempat menjadi teman dalam keseharianku.

Sejak saya pernah memutuskan untuk menghapus blog lamaku, saya sudah berjanji untuk nggak akan membuka blog itu lagi dan akan membuat blog baru. Selama hampir berbulan-bulan saya bisa bertahan dengan janjiku yang tak berdasar, meski pada kenyatannya saya tetap menulis di buku harian, atau Tumblr

Ada berbagai gejolak batin yang tercipta saat hati ingin bicara tapi diri merasa terlalu rendah. Terkadang ada beberapa cerita yang ingin dibagi. Alhamdulillah kalau bisa menginspirasi, tetapi tak muluk-muluk, tujuannya memang hanya sesederhana itu; untuk menasihati kalau-kalau nanti lupa diri.

Saya sibuk membangun makna, menentukan tujuan yang sudah terpampang nyata, hingga lupa bahwa untuk mengakhiri semuanya adalah dengan memulai.

Maka disini saya memulai kembali apa yang dipaksa mati. Bisa jadi hati, atau diri sendiri Semuanya. Termasuk teman-temanku di WordPress yang baik hati. Belum terlambat untuk bergerak lagi, kan?

Ada banyak hal yang mendorongku untuk menulis lagi di DW. Banyaaak banget. Saya merasa harus membaginya disini, supaya nanti kita tetap ingat dan terus semangat untuk terus memberi manfaat.

Kita akan mati dan nggak meninggalkan apa-apa
Akhir-akhir ini uni sering bercerita tentang salah satu temannya yang sedang berjuang melawan kanker. Bukan hanya sekali-dua kali, tapi hampir setiap kondisi beliau memburuk, Uni pasti mengabarkanku hingga aku tahu pasti kondisi beliau mulai awal ditetapkan sebagai pengidap kanker hingga akhirnya beliau sampai di titik kritisnya.

Saya pun sempat diamanahkan oleh Uni untuk membayarkan hutang beliau di salah satu masjid di Makassar. Tetapi sering lupa hingga tertunda beberapa waktu.

Sampai satu saat Uni mengabarkanku, “Innalillahi Mbak, beliau meninggal kemarin.”

Sulit bagiku untuk percaya bahwa orang yang selama ini Uni ceritakan sekarang sudah tiada. Meski dari kondisi yang Uni jelaskan pun rasanya sulit bagi beliau untuk bertahan, aku masih menyimpan sedikit harapan, “Siapa tauuu ada keajaiban, doa ibu, doa keluarga, dukungan teman-teman. Siapa tahu beliau bisa sembuh.” Walau secara hukum alam dan logika rasanya tidak mungkin. Tapi ternyata Allah menyayangi beliau, hingga Allah panggil beliau dalam kondisi masih muda.

Segera setelah saya menerima kabar meninggalnya beliau, saya langsung pergi ke masjid yang dimaksud untuk membayar hutang beliau. Hutang beliau memang nggak tercatat karena Takmir Masjid sudah ganti kepengurusan. Tetapi ada yang mengejutkan, saat mas-mas muda di hadapanku berkata, “Oh, iyaa, beliau dulu calon ketua keputrian angkatan berapa gitu. Sekarang di kota *piiip*. Melanjutkan S2, kan?”

Wah, masyaAllah. Saya sebelumnya nggak berekspektasi kalau ada orang takmir yang mengenal beliau, apalagi jarak usia beliau dengan mas-mas di hadapanku cukup jauh. Tapi ternyata, kabar meninggalnya beliau menyebar hingga menembus jarak waktu dan berada dalam lingkaran orang-orang baik, dan besar kemungkinan doa-doa mereka akan mengalir untuk beliau.

Sehari setelahnya, saya pulang dan semuanya berjalan seperti biasa. Sampai akhirnya aku sadar sesuatu, nggak ada kesedihan mendalam di diri Uni sebagai sahabat dekat beliau. Akhirnya saya nyeletuk, “Ni, Bu ____ kemarin habis meninggal. Tapi kok rasanya ya gimana ya, kita sedih ditinggal beliau, tapi setelah itu semua kembali seperti biasa. Uni sebagai orang yang menemani beliau ketika sakit juga beraktivitas seperti biasa. Ya semua tetap seperti biasa gitu, seakan ini bukan apa-apa dan memang sudah wajar terjadi.”

Iya, random. Tapi celetukan itu sebenarnya merujuk pada refleksi diriku, “Ketika saya mati nanti, mungkin orang-orang akan sedih. Paling juga seminggu. Setelah itu mereka akan menjalani hidup mereka masing-masing. Kemungkinan terburuk saya akan dilupakan, paling buruk ya lupa didoakan. Dan saya di alam kubur sana berjuang sendirian.”

Saya ingin dikenang sebagai orang yang seperti apa ketika saya mati nanti?

Tepat ketika saya memikirkan hal tersebut, Choco dashboard WordPress saya muncul di pikiranku. Saya bisa meninggalkan jejak digital yang dibaca oleh keturunanku nanti. Saya bisa menebarkan manfaat disana, supaya kelak ketika saya meninggal dan ada seseorang yang mampir kesini, ia mau berbaik hati memanjatkan sebait doa.

Semoga.

2. Ajaibnya Hidup terlalu Indah untuk Dilewatkan

Pernah nggak merasa pasrah sepasrah-pasrahnya kepada Allah dalam kondisi sempit dan tahu-tahu pasrah (atau harapaya) itu Allah kabulkan?

Saya pernah. Setelah diingat-ingat pun rasanya nggak cuma sekali, tapi berkali-kali. Bukan pada hal-hal besar kayak pergi berjihad berada di bawah todongan senjata untuk Jihad. Hmm, saya. Masih receh, semacam ngejar waktu untuk ngumpulin tugas agenda dakwah dan lain-lain

Yang paling dekat dan paling fresh from the oven lengkap dengan rasa-rasa yang masih tersisa.

Setiap orang punya jam malamnya sendiri, termasuk saya. Saya harus berada di rumah maksimal jam 8, berarti minimal berangkat dari campus jam setengah 7 malam karena perjalanan cukup lama, padatnya kemacetan jalan raya akhirnya sy kelamaan di jalan. Lebih dari jam 8, pintu rumah telah dikunci.

Tapi saya sadar diri, jadi kuusahakan untuk menyelesaikan semua kewajiban sebelum malam. Meski begitu, ada hal-hal yang nggak bisa diprediksi dan memakan waktu lebih.

Seperti malam lalu. Saya dan Akhwat ideologis mendiskusikan tentang banyak hal hingga pukul sembilan. Banyak hal yang kami bahas dan ternyata membutuhkan waktu lebih. Saat itu kami sudah berada di basement parking dan saya sudah mau pulang banget. Tapi tiba-tiba gagasan dan idea idea itu bermunculan banyaaaak dan bisa tebak kelanjutannya. Kami kembali bernegosisasi cukup lama untuk menentukan apakah harus dibahas sekarang atau keesokan hari😅

Karena memang masalahnya urgen dari segi waktu dan esensi, maka saya memutuskan untuk tetap lanjut. Bismillah. Bismillaaah, niatkan semua karena Allah. InsyaAllah, Allah bakal bantu. InsyaAllah, Allah nggak akan membiarkan saya terdiam menunduk di depan ayah sambil berkata ayah.. ayah jangan marah inna pulang lewat, maaf ngak jawab call dari ayah.. inna tau ayah risau, tapi saya ngak mau terus menyusahkan ayah untuk datang menjemputku.. karena ayah sudah lelah seharian di kantor😔

Pembahasan berjalan lancar. Alhamdulillah. Saat itu aku nggak sadar kalau bisa jadi itu adalah anugerah Allah karena isi pikiranku udah pulang, pulang dan pulang. Saya hanya berusaha menyelesaikan secepat dan seefektif mungkin supaya ayah ngak marah nanti, karena aku memang pernah pulang malam agenda di luar padet banget tambah macet tambah beteri handphone low, Ayah pernah marah banget.

Larut malam, dengan kondisi yang sudah lelah dan nggak jelas, akhirnya saya pulang. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa berharap-harap cemas. Ya Allah semoga belum Ayah ngak marah. Kalau misalnya ayah marah, semoga mama ada jadi penyelamat saya😊

Karena… kekunci di luar malem-malem dengan kondisi handphone mati dan penghuni rumah udah pada di kamar, itu horor 😦

Dan… bahagianya ketika kamu datang pas mama bukain pintu untuk kamu, itu nggak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Saya selamat! Ya Allah. Allah baru aja mengabulkan doa saya kan ya? Untuk hal sereceh ini? Allah memang baik😊

Beberapa waktu kemudian, Ukhti Rahmi ngechat saya dan cerita tentang takdir hidup dia yang ternyata diarahkan Allah ke arah yang nggak disangka-sangka.

Rasanya, cerita-cerita kecil macam ini patut untuk diarsipkan dan direnungkan untuk diambil hikmah dan pelajarannya. Sebab Allah sejatinya sedang mendidik kita lewat semua kejadian yang kita alami, baik atau buruk. Dengan mengumpulkan keajaiban-keajaiban itu satu per satu, saya berharap kita akan semakin kuat diterpa badai yang lebih kencang, semakin percaya bahwa Allah akan selalu ada.

Aku takut kalau seandainya Allah sudah memintaku untuk bergerak tapi saya menolak. Lewat teman-teman terbaikku, Allah titipkan amanah untuk tetap menulis dengan berbagai alasan yang bisa kubangun sendiri, sebagai bentuk ekspresi diri atau bukti cinta pada Illahi. Atau keduanya.

Untuk yang sudah pernah baca blogku dulu, pasti tahu kalau aku suka waktu pagi. Fajar, udara pagi, sinar matahari pagi, dan yang paling penting, orang-orang di pagi hari.

Yaa, dengan segala filosofi dan kenyamananku di waktu pagi, maka terbitlah..😇

Terimakasih banyak semuanya! Mari berproses bersama!😊

Iklan

About AMS

....Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka”,(Abu Bakar As-Shiddiq ra) " bagiMulah segala puja puji, dgn hati badan dan lisanku.....

Posted on 22 Oktober 2018, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Terbit.

Komentar ditutup.

Laporan Aktual

Memilih Kabar Dari Sumber Terpercaya

M2000

Social Net Blog

Muslimah Daily

Allah bersamamu. Tidakkah Allah Cukup Bagimu

Pena Syariah

MENJADI KUMPULAN PENULIS YANG MENERAJUI PENULISAN BERASASKAN SHARIAH MENJELANG TAHUN 2025

Jadikan Viral!

biar semakinra.me!

Blog Abu Hudzaifah

Menghidupkan Sunnah Mematikan Bid'ah

Addariny's --- Centre

Meniti Jejak, Para Salafus Sholih yg Bijak

Aisyna haniifah

sibukkanlah dirimu dengan karya yang bisa mengharumkan namamu di hari akhir

bloginismeiga

Ekspresikan Diri dengan Cerita

Perkembangan Islam di Nusantara

merenung Islam masa lalu, merekam Islam masa kini, mereka Islam masa depan

Catatan Cinta Sahaja

AKU BELAJAR DARI KALIAN DAN AKU MENULISKANNYA

Cahyaiman's Blog

A fine WordPress.com site

Ideological Thinker

We write to SPEAK UP

Indonesian Blogwalker

There are far better things ahead than any we leave behind

Draft Corner

A Place for a Dreamer

Perjalanan Panjang

Tentang Hidup, Asa dan Cinta

blognoerhikmat

lihat dengan kata.baca dengan hati

Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Abdullah Adnan

Blogger | Motovlogger

Jendela Puisi

serumpun puisi dari hati yang merindu

%d blogger menyukai ini: