Monthly Archives: Agustus 2012

Mengenalkan Mabda’ Islam Kepada Anak


Islam yang kita cintai ini adalah sebuah mabda’ (ideologi). Muhammad Ismail dalam bukunya Al-Fikr al-Islami, menyatakan bahwa mabda’ (ideologi) adalah keyakinan dasar yang bersifat rasional, yang melahirkan sistem/sekumpulan aturan hidup (‘aqidah ‘aqliyyah yanbatsiqu ‘anha nizham).

Islam tidak hanya mengatur hal yang bersifat spiritual yang dicakup rukun iman serta keyakinan terhadap hal-hal gaib yang dikabarkan oleh wahyu. Namun, Islam juga bersifat politis karena memiliki peran dalam mengatur urusan masyarakat melalui penerapan sistem kehidupan yang disebut nizham atau syariah.

Mengenalkan Mabda’ Islam kepada Anak

Mengenalkan mabda’ Islam kepada anak adalah tugas pertama dan utama orangtua. Rasulullah saw. bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi.” (HR al-Bukhari).

Ibu memegang peranan yang sangat penting sebagai peletak dasar pendidikan dan penanaman nilai-nilai Islam serta tempat pengkaderan pejuang-pejuang umat. Ibu seharusnya memiliki visi dan misi yang jelas dalam mendidik anak sehingga anak akan terarah dengan pasti setahap demi setahap menuju tujuan dan target yang diinginkan.

Tahapan Pengenalan Mabda’ Islam

Tujuan mengenalkan mabda’ Islam adalah dalam rangka membentuk pola pikir dan pola sikap yang islami (membentuk kepribadian Islam) pada diri anak. Selanjutnya dengan pembentukan ini, anak akan siap mengemban Islam sebagai kaidah berpikir dan kepemimpinan berpikirnya. Oleh karena itu, pengenalan mabda’ Islam kepada anak dilakukan dengan mengenalkan dan menanamkan akidah dan syariah Islam dalam beberapa tahap perkembangan anak.

1. Masa mengandung dan melahirkan

Penanaman akidah dilakukan sejak anak masih dalam kandungan ibunya melalui lantunan asma-asma Allah yang disenandungkan sang ibu. Ibu harus banyak-banyak berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT supaya bayi yang ia kandung mengenal Allah dan kelak dapat menjadi pejuang agama-Nya.

Sesaat setelah bayi lahir Rasulullah saw. mengajarkan agar memperdengarkan azan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya. Ini dimaksudkan agar kalimat pertama yang didengar anak adalah kalimat tauhid, yang merupakan bagian dari penanaman akidah terhadap anak.

Selanjutnya pada masa-masa awal pertumbuhannya, penanaman akidah dapat terus dilanjutkan dengan sering memperdengarkan bacaan al-Quran dan kalimat thayyibah.

2. Usia dini; masa pembentukan dasar-dasar kepribadian Islam.

Masa ini dikenal dengan “golden age” atau periode emas, karena perkembangan kecerdasan anak sangat pesat. Usia ini juga merupakan fase “mengulang” dan “meniru”. Karena itu, keteladanan dan pemberian informasi adalah cara yang sangat efektif. Hapalan surat-surat pendek, hadis, doa sehari-hari; kisah para Rasul, sahabat, pahlawan Islam dapat disampaikan untuk memberikan figuritas kepada anak.

Pengkondisian lingkungan juga tak kalah pentingnya karena anak perlu bersosialisasi dan bermain di lingkungan yang baik. Dalam lingkungan yang baik, pembiasaan amal-amal salih akan lebih kondusif. Anak laki-laki mulai diajak untuk shalat berjamaah di masjid atau mushala terdekat bersama kakak atau ayahnya agar anak terbiasa dengan suasana masjid dan syiar Islam.

Sesekali anak juga dapat diajak untuk mengikuti kegiatan dakwah orangtuanya seperti tablig akbar, pawai dan kegiatan lainnya yang dapat menggugah semangat anak untuk berjuang di jalan Allah.

3. Usia pra balig; masa pemantapan dan pembiasaan dalam melaksanakan syariah.

Usia pra balig (sekitar 7-12 tahun) merupakan masa yang sangat menentukan. Pada saat inilah terjadi pemantapan akidah yang telah diberikan pada usia dini. Pengetahuan tentang syariah Islam yang telah didapatkan pun mulai dibiasakan secara rutin dalam keseharian, khususnya kewajiban shalat. Walhasil, setelah anak balig (mukallaf) nanti, ia telah siap untuk menerima segala konsekuensi dan bertanggung jawab penuh terhadap seluruh perbuatan yang dilakukannya. Jiwa kepemimpinan dan kepekaan terhadap lingkungan di sekitarnya juga mulai dikembangkan sambil melatih proses standarisasi Islam dalam menilai setiap persoalan kehidupan yang dia hadapi.

Metode pembelajaran terbaik yang harus diterapkan adalah dengan metode talqiy[an] fikriy[an], yaitu pemberian informasi yang terus berulang agar terbentuk kerangka berpikir. Ibu harus bisa mempersiapkan kepribadian Islam anak yang menyentuh aspek pemikiran (‘aqliyah) dan perasaan (nafsiyah). Beberapa hal yang bisa dilakukan ibu untuk menanamkan mabda’ Islam kepada anak pada tahap ini di antaranya:

Pertama, mengokohkan akidah yang telah ditanamkan pada usia dini, dengan cara mengajak anak untuk mengamati obyek yang ada di sekitarnya (manusia, alam semesta dan kehidupan). Bisa juga dengan bantuan CD yang berisi fenomena alam, binatang, tanaman, keajaiban laut, dll), atau dengan cara mengajaknya ke alam terbuka. Selanjutnya merangsang proses berpikir mereka terhadap pengakuan adanya Allah SWT dan kebesaran-Nya, serta pengakuan akan kelemahan manusia dan ketidakkekalan segala makhluk yang ada di dunia. Keimanan terhadap al-Quran dan kerasulan Muhammad saw. dengan cara menjelaskan mukjizat al-Quran melalui shirah Rasulullah saw. dengan bahasa dan retorika yang menarik. Tujuannya agar terjadi penjiwaan pada diri anak terhadap shirah Rasul dan pembenaran terhadap al-Quran sebagai kitab yang diturunkan Allah SWT untuk umat Islam.

Kedua, menanamkan konsekuensi mengimani al-Quran, yaitu membenarkan bahwa ajaran di dalam al-Quran berisi petunjuk dari Allah SWT untuk keselamatan dan kebahagiaan umat manusia di dunia dan akhirat. Demikian pula bukti mengakui Nabi Muhammad saw. sebagai rasul adalah percaya pada hadis-hadis beliau. Carilah contoh syariah yang mudah dicerna oleh mereka, seperti perintah untuk berbakti kepada orangtua, berinfak kepada fakir miskin, larangan mengadu domba sesama Muslim, menipu, dll. Tujuannya agar anak memiliki gambaran tentang syariah Islam dan merasa terikat dengannya.

Ketiga, di samping membentuk kerangka berpikir anak, hal-hal yang wajib ataupun sunnah sudah harus dibiasakan, khususnya shalat, shaum dan menutup aurat. Nabi saw. bersabda, “Perintahkanlah anak-anakmu shalat jika mereka telah menginjak usia 7 tahun, dan pukullah mereka (karena meninggalkan shalat), jika telah menginjak usia 10 tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR Ahmad).

Pembiasaan shalat juga bisa dilakukan dengan cara mengajak shalat berjamaah seluruh anggota keluarga. Khusus anak laki-laki dibiasakan untuk shalat di masjid. Demikian pula menghapal al-Quran dan tadarus, dapat dilakukan bersama seluruh anggota keluarga. Tujuannya adalah agar ilmu yang telah didapatkan anak juga diamalkan dalam kesehariannya dapat serta memperkuat bentukan nafsiyah Islam (syuur Islam) mereka.

Keempat, mengajarkan dan membiasakan adab-adab (akhlak islami), baik terhadap orangtua, saudara, guru, teman, tetangga, dll. Misalnya, dengan selalu mengucapkan salam, menampakkan wajah yang berseri-seri, meminta izin jika memasuki rumah, dll.

Kelima, dalam hal pergaulan dengan lawan jenis, mulai dibiasakan terpisah antara anak laki-laki dan perempuan, sambil dijelaskan akibat pergaulan yang bercampur-baur di dalam kehidupan umum, bisa mengarah pada pandangan yang didasari naluri jenis, dan ketidakproduktifan berpikir, khususnya pada anak yang telah menginjak usia 10 tahun. Bagi anak perempuan mulai dibiasakan untuk memakai pakaian syar’i yaitu jilbab dan khimar.

Keenam, anak yang telah berumur 10 tahun ke atas mulai diajak berpikir untuk membaca persoalan di masyarakat yang dikaitkan dengan informasi keislaman yang telah didapatkannya. Analisis diarahkan pada solusi Islam berikut perbandingan dengan solusi-solusi yang diambil oleh masyarakat atau negara saat ini.

Ketujuh, dengan seringnya melatih proses berpikir anak, pemikiran anak sudah semakin meluas hingga bisa menyimpulkan persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat saat ini, yaitu tidak adanya penerapan syariah Islam di tengah kehidupan. Selanjutnya anak akan terdorong untuk melakukan amar makruf nahi mungkar dan berjuang demi tegaknya syariah Islam.

Khatimah

Dengan penanaman akidah dan syariah seperti ini, insya Allah anak akan semakin mantap mengenal Islam sebagai mabda’, Islam yang tidak hanya mengatur ruhiah, tetapi yang mampu memecahkan problematika kehidupan.

(Komunitas Muslimah Rindu Syariah & Khilafah)

Pautkan hatiku pada yang satu yang kau ridha


Aku takan pernah memilih cinta yang penuh airmata tapi aku akan memilih cinta yang sederhana dan apa adanya…

Aku takan memilih pria yang banyak dipuja wanita namun aku akan memilih pria yang dekat dengan Tuhannya.

Aku takan memilih pria yang hanya pandai merangkai kalimat romantic tapi aku akan memilih pria yang selalu menyelitkan namaku dalam doanya.

Ya Rabb,,,bantulah hamba untuk mempertahankan TAQWA…
Untuk menjaga hatiku cukup berlabuh pada seseorang yang sangat mencintai_Mu..Aamiin..

Pahlawan dlm hidup ku


Ummi, Engkau segalanya bagi ku…..
Ummi, tidak sedikitpun aku untuk membuat mu menangis…..
Ummi, maafkanlah atas semua kesalahan yg pernah ku perbuat selama hidup di dunia ini yg di sengaja maupun tdk…..
Ummi, Engkaulah pahlawan bagi ku…..
Pahlawan bagi keluarga dan kehidupan ku….
Kasih sayang mu kpd ku begitu tulus dan ikhlas tanpa pamrih….

Kesabaran yg Engkau berikan kpd anak2 mu sungguh luar biasa….
Menjalani hidup yg penuh kesederhanaan ini Engkau sangat mensyukuri apa yang telah d berikan Allah SWT…..
Ummi, Engkaulah contoh bagi anak2 mu…..
Jasa mu sangat luar biasa bagi ku….
Mungkin ku tak kan pernah bisa mmbahagiakan mu selama ini, bahkan tak pernah bisa…..

Aku hanya anak yg menyusahkan mu membuat mu menangis, marah, bahkan kecewa….
Ummi, Kau lah manusia paling tegar dlm menjalani hidup d dunia ini….
Ummi, semua ucapan mu adalah doa yang baik….
Tak sedikitpun Engkau mengeluh dlm merawat anak2 mu….
Aku sungguh salut pada sosok mu, Ummi….
Maafkanlah ats segala kesalahan anak mu ini….
Ya Allah ampunilah segala dosanya…
Jagalah Ummi hamba Ya Allah….
Berikanlah selalu berkah dan rahmat-Mu pada beliau….
Kuatkanlah Ummi dlm menjalani kehidupan yang fana ini….
Jadikanlah beliau wanita yg paling mulia d hadapan-Mu…..
Berikanlah jannah-Mu padanya…..
Berikanlah kesehatan dan kabulkanlah semua permohonan beliau Ya Allah….
Hidup dan mati ini hanya ada pada genggaman-Mu…..

emata.

Ukiran Dalam Samudera Harapku


Ya Allah……
Saat aku menyukai seorang teman,…
Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir,…

Sehingga aku tetap bersama yang Tak Pernah Berakhir.

Ya Rabb-ku…
Ketika aku merindukan seorang kekasih,…
Rindukanlah aku kepada yang rindu Cinta Sejati-Mu
Agar kerinduanku terhadap-Mu semakin menjadi.

Ya Allah …Yang Maha Pengasih…
Jika aku hendak mencintai seseorang,…
Temukan aku dengan orang yang mencintai-Mu,…
Agar bertambah kuat cintaku pada-Mu

Ya Allah…Yang Maha Pemurah…
Ketika aku sedang jatuh cinta,…
Jagalah cinta itu,…
Agar tidak melebihi cintaku pada-Mu.

Ya Allah …Yang Maha Penyayang…
Ketika aku berucap ” aku cinta padamu “,…
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada-Mu.
Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena-Mu.
Sebagaimana orang bijak berucap…
Mencintai seseorang bukanlah apa-apa,…
Dincintai seseorang adalah sesuatu,…
Dicintai oleh orang yang kau cintai sangatlah berarti,…
Tapi dicintai oleh Sang Pencipta adalah segalanya.

Rabbana hablanaa min azwaajinaa wa zurriyyaatinaa qurrata’ayyuni waj’alna
lilmuttaqqiina imaamaa
Ya Allah…anugerahkanlah kepada kami
Istri2 (Suami) kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)
dan jadikanlah kami imam bagi orang2 yang bertakwa.

INDAHNYA HATI


Malam itu seorang laki-laki shalih sedang terpekur, kepalanya tertunduk dalam-dalam, matanya sayu menatap butir-butir pasir yang terhampar sepanjang pandangan, sesekali mulutnya bergumam, menyenandungkan dzikir dalam kepasrahan yang menyelimuti sekujur jiwanya.

Malam pun kian larut, dingin pun mulai menyusup ke pori-pori kulit. Angin kemarau bagai berbaris silih berganti menerpa ke
damaian dirinya. Senyap pun mulai merayap bersama gemerisik binatang malam dan lolongan anjing yang sesekali merobek kesyahduan malam.

Sementara bulan sepenggalah nampak kelam temaram, tenggelam dalam cengkeraman kepekatan lazuardi hitam, yang membentang dalam taburan berjuta bintang; menebarkan nuansa indah, syahdu, damai lagi menggetarkan sukma, memaksa diri untuk bersimpuh di hadapan Kebesaran-Nya Yang Akbar.

Angin malam kembali berhembus agak kencang, membawa dingin mistis yang menyelusupkan getaran-getaran samawi. Dan….. ya Alloh angin itu membawa senandung tilawah anak Adam di kejauhan sana. Lamat tapi pasti terdengar bacaan Qur’an itu bagai suara langit yang menggema di sepanjang lorong-lorong akbar persada alam ini, menggetarkan setiap diri yang masih memiliki setitik cahaya dalam hatinya.

Tak terasa derai air mata pun tumpah tak mampu dia tahan, terlebih manakala dia ingat betapa diri masih berlumur dosa berlumut salah, masih berkubang diri dalam lumpur ma’shiyat, masih belum mampu, atau bahkan belum mau, melepaskan diri dari kungkungan nafsu amarah…..ya Alloh……

Ya Alloh. Ampuni hamba …

Ampuni hamba ya Alloh…..

Ampuni ham…..ba-Mu ya……Alloh.

Namun tiba-tiba derai air mata ini hilang seketika, ketika senandung tilawah itu semakin jelas di telinga, seperti sengaja ditujukan untuknya. Dan….. ya Alloh….., mendadak gemetar sukma dan derai air matanya semakin menjadi-jadi, mengguncang-guncang tubuh kurusnya, ketika sang Qari’ misterius itu menyenandungkan ayat :

يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُوْنَ إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

Pada hari dimana tidak akan bermanfa’at harta dan anak (yang dimiliki), kecuali mereka yang datang menghadap Alloh dengan hati yang selamat…….” (Asy Syu’araa : 88-89)

Dengan tubuh yang masih terguncang ia pun mengadu :

Ya Alloh, benarkah firman-Mu ini… ?

Benarkah hanya mereka yang berhati selamat saja yang akan bersua dengan Keindahan-Mu ?

Hati yang selamat yang bagaimana ya Alloh ?

Ya Alloh, hamba ingin segera menghadap-Mu, namun hamba tahu, kalau hamba belumlah termasuk bagian dari hamba-hamba-Mu yang berhati selamat. Oleh karena itu ajarilah hamba untuk mengenali hakikat hati yang selamat ini…..Aamiin.
(menjadi pribadi yang sholih sukses dunia & akhirat, Aamiin)

SAAT MELEPASKAN DIA DEMI KEBAHAGIAANNYA,


Allah mengetahui yang terbaik, akan memberi kesulitan untuk menguji kita,kadang Ia pun melukai hati kita, supaya hikmat_Nya tertanam dalam, Jika kita kehilangan cinta maka pasti ada alasan dibaliknya,

Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti namun kita harus tetap percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia telah siap memberikan yang lebih baik.Ingatlah… bahwa kita mungkin menemukan cinta dan kehilangannya, tetapi ketika cinta itu mati, kita tidak perlu ikut mati bersamanya.

Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?Ketika kita menangis?Ketika kita membayangkan?

Ini kerana hal terindah di dunia tidak terlihat..kadangkala, orang yang kita cintai adalah orang yang paling menyakiti hati kita. Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan,ada orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan.Tetapi ingatlah,melepaskan bukanlah akhir dari dunia,melainkan awal dari suatu kehidupan baru.

Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis,mereka yang tersakiti, yang telah mencoba dan mencari,Kerana merekalah yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka.

Pepatah mengatakan,

Cinta yang agung adalah ketika kita menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya, ketika dia tidak mempedulikan kita dan kita masih menunggunya dengan setia, ketika dia mencintai orang lain dan kita masih bisa tersenyum sembari berkata “aku turut bahagia untukmu”…

Sakit patah hati bertahan selama kau menginginkannya dan akan mengiris luka sedalam kau membiarkannya.

Tantangannya bukanlah bagaimana bisa mengatasi melainkan apa yang bisa diambil sebagai pelajaran dan hikmahnya.

Orang terkuat bukanlah mereka yang selalu menang,melainkan mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh.

Cinta bukannya perkara menjadi “orang sempurna”nya seseorang.Justru perkara menemukan seseorang yang bisa membantu menjadikan dirimu menjadi sempurnanya.

Dalam perjalanan hidup ini ,kita belajar tentang diri sendiri dan menyadari bahwa penyesalan tidak seharusnya ada, hanyalah penghargaan-penghargaan abadi atas pilihan-pilihan kehidupan yang telah kita buat.

Akan tiba saatnya dimana kita harus berhenti mencintai seseorang,bukan kerana orang itu berhenti mencintai kita melainkan kerana kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita ” Melepaskannya .”

Dimulai dengan kebangkitan wanita islam


Kebangkitan islam dimulai dengan kebangkitan wanita islam. Kemuliaan Islam dan bangsa terletak pada kemuliaan kaum wanita. Nabi bersabada:

“Wanita laksana tiang negara. Bila tiang ini baik tidak keropos nisacaya negara dan bangsa akan menjadi baik dalam segala dimensinya.”

Di balik kesuksesan seorang anak, ibulah yang menjadi jawaban siapa di balik kesuksesan anak-anaknya. Hanya saja, yang menja
di hal yang teramat memprihatinkan adalah kebanyakan para orangtua lebih mempercayai sekolah sekuler-liberal bahkan sekolah yang membentuk menjadi kafir, sadar atau tidak.

Saksikanlah pendidikan nasional, tak lebih dari upaya mengkader manusia bermental muanfik, penegmis, koruptor, dan anti pada kebenaran mutlak dari sumber yang mutlak yaitu al-qur’an dan sunnah. Dari SD hingga sekolah perguruan tinggi semuanya mengususung liberalis dan sekuleris struktural dan sistematis.

Bahayanya, keadaan ini tak banyak orang islam yang menyadarinya sebagai ATTACK terhadap akidah dan nilai-nilai peradaban manusia yang luhur. Justeru banyak umat islam keteteran dalam persoalan ini, mengingat orientasi mereka hanya keberhasilan status sosial.

Apakah kemudian umat islam menyadari, ketika hal ini diremehkan?

Ketahuilah ketika hal ini diremehkan sama artinya telah mengkhianti Allah dan Rasulnya, dalam arahannya kepada setiap orangtua untuk menjaga keyakinan anak-anaknya. “Karena setiap anak yang lahir semuanya dalam keadaan bertuhid (fitrah).”

Bukankah anak dan isteri adalah amanat bagi setiap lelaki, dan amanat bagi seorang isteri kepada anak-anaknya?

Allah berfirman: “Wahai kaum mukminin, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat kalian, padahal kalian menyadari bahaya pengkhianatan.” (al-Anfal; 27).

Oleh karena, jangan sampai ada di antara kita menjadi pengkhianat Allah dan Rasul-Nya, serta menyimpangkan amanat-amanat dari-Nya. Maka, perhatikanlah nasihat ini, sebelum kita menjadi ayah dan ibu. Perhatikanlah petuah ini wahai para ibu dan bapak, sebelum tiba saaatnya akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang kita pimpin!

Selagi masih ada waktu, berbenahlah !

LOMBA MAKAN PARE SEDUNIA


oleh Galuh Chrysanti

Negeri Senyuman menyelenggarakan Lomba Makan Pare Sedunia. Lomba diikuti oleh tiga peserta yaitu Negeri Senyuman sebagai tuan rumah, Negeri Awan, dan Negeri Antah Berantah.

Lomba ini tergolong sangat sulit. Bayangkan, tiap peserta harus makan satu karung pare yang terpahit. Peserta tidak boleh keluar dari gelanggang jika pare tersebut belum dihabiskan semua. Peserta yang telah menghabiskan sepuluh buah pare, mendapat satu hadiah hiburan yang bertahap makin besar nilainya, hingga hadiah utama jika ia benar-benar mampu melahap satu karung pare itu.

Perlombaan dimulai. Peserta dari Negeri Awan tampak pucat setelah mengunyah pare pertamanya. Bahkan ia hanya mampu menghabiskan sebuah pare dan menyisakan sekarung penuh pare tanpa boleh keluar dari gelanggang.

Peserta dari Negeri Antah Berantah masih lumayan. Digigitnya pare bagiannya sedikit demi sedikit, dengan ekspresi wajah yang tak keruan. Mulutnya terus menggumam penuh keluh kesah yang tak tertahankan.

Peserta dari tuan rumah, Negeri Senyuman, tampil paling kreatif. Pare-pare itu dimasaknya menjadi santapan yang lezat. Memang sebetulnya tidak ada larangan dari panitia untuk mengolah pare itu lebih dulu, yang penting semua pare dapat masuk ke perut peserta lomba.

Sepuluh pare pertama ditumisnya, dicampur udang kecil dan cabe rawit. Sebelum dimasak, pare dilumatnya dulu dengan garam lalu dibilas, hingga makin hilang rasa pahitnya. Sepuluh pare kedua direbus dan dimakannya dengan siomay dan bumbu kacang hingga licin tandas. Aadapun sepuluh pare ketiga, diisinya dengan daging cincang lalu dikukus. Pare demi pare dihabiskannya hingga ia berhasil mendapatkan satu demi satu hadiah hiburan serta berhak menggondol hadiah utama.

Sahabat, lomba makan pare sedunia ini bagaikan masalah atau ujian hidup bagi kita. Ada tiga pilihan kita menjalaninya. Pertama, lari darinya, seperti peserta dari Negeri Awan kemudian menyisakan setumpuk persoalan yang tak terselesaikan.

Kedua, menjalani ujian dengan berat hati, seperti peserta dari Negeri Antah Berantah. Ia melalui satu demi satu ujian kehidupan dengan keluh kesah.

Ketiga, menikmati ujian seperti sang juara. Karena masalah dan ujian hidup itu adalah suatu kepastian yang harus dilalui setiap anak manusia, mengapa tak menghadapinya dengan lebih nikmat, walau sepahit apapun? Katakanlah pada setiap masalah yang menghampiri, “Selamat datang masalah, aku akan menghadapimu dengan senyuman, hingga dapat kucari solusimu dengan hati lapang dan tenang”.

Dengan sikap demikian, masalah tidak akan terlalu membuat hati kita sempit. Ujian hidup datang dan pergi sebagai konsekuensi atas eksistensi kita sebagai manusia. Menyelesaikan tiap masalah membuat kita bertambah cerdas dan dewasa sebagai bonusnya, bagaikan hadiah hiburan lomba makan pare di atas. Kita dapat memilih, untuk menjadikan masalah sebagai sesuatu yang kita nikmati. Seperti pahitnya pare yang dapat diolah menjadi tumis lezat, siomay pare, pare kukus, dan aneka makan nikmat lainnya. Selamat menikmati masalah, dengan senyuman.

SAAT MELEPASKAN DIA DEMI KEBAHAGIAANNYA,


Allah mengetahui yang terbaik, akan memberi kesulitan untuk menguji kita,kadang Ia pun melukai hati kita, supaya hikmat_Nya tertanam dalam, Jika kita kehilangan cinta maka pasti ada alasan dibaliknya,

Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti namun kita harus tetap percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia telah siap memberikan yang lebih baik.Ingatlah… bahwa kita mungkin menemukan cinta dan kehilangannya, tetapi ketika cinta itu mati, kita tidak perlu ikut mati bersamanya.

Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?Ketika kita menangis?Ketika kita membayangkan?

Ini kerana hal terindah di dunia tidak terlihat..kadangkala, orang yang kita cintai adalah orang yang paling menyakiti hati kita. Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan,ada orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan.Tetapi ingatlah,melepaskan bukanlah akhir dari dunia,melainkan awal dari suatu kehidupan baru.

Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis,mereka yang tersakiti, yang telah mencoba dan mencari,Kerana merekalah yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka.

Pepatah mengatakan,

Cinta yang agung adalah ketika kita menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya, ketika dia tidak mempedulikan kita dan kita masih menunggunya dengan setia, ketika dia mencintai orang lain dan kita masih bisa tersenyum sembari berkata “aku turut bahagia untukmu”…

Sakit patah hati bertahan selama kau menginginkannya dan akan mengiris luka sedalam kau membiarkannya.

Tantangannya bukanlah bagaimana bisa mengatasi melainkan apa yang bisa diambil sebagai pelajaran dan hikmahnya.

Orang terkuat bukanlah mereka yang selalu menang,melainkan mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh.

Cinta bukannya perkara menjadi “orang sempurna”nya seseorang.Justru perkara menemukan seseorang yang bisa membantu menjadikan dirimu menjadi sempurnanya.

Dalam perjalanan hidup ini ,kita belajar tentang diri sendiri dan menyadari bahwa penyesalan tidak seharusnya ada, hanyalah penghargaan-penghargaan abadi atas pilihan-pilihan kehidupan yang telah kita buat.

Akan tiba saatnya dimana kita harus berhenti mencintai seseorang,bukan kerana orang itu berhenti mencintai kita melainkan kerana kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita ” Melepaskannya .”

Katakan Aku Cinta Padamu


Kawan, saat engkau bangun pagi ini, sudahkah engkau katakan cinta bagi orang-orang terdekat: Istri atau Suami? Ibu, Bapak, Kakek, Nenek, Adik, Kakak dan kerabatmu?

Belum, mungkin itu jawabmu. Karena di keluargamu tak ada budaya mengatakan cinta. Hingga kagok terasa bila harus mengungkapkannya.

Boro-boro, barangkali itu katamu. Sedang pagi hari semua harus ke tampat ker
ja dan ke sekolah, berpacu dengan waktu. Mana sempat bilang I Love U?

Kawan, saat bertemu dengan para sahabat hari ini, sudahkah engkau sampaikan cinta bagi mereka? Semua orang dekat baik di mata maupun di hati? Semua orang dekat baik karena darah maupun pertalian aqidah?

Tidak! Mungkin begitu tangkismu. Kebersamaanmu dengan mereka lebih karena tuntutan kerja dan aktifitas, mungkin itu jawabnya.

Tak biasa! Barangkali demikian kau bilang. Toh, obrolan dan jalan bersama sudah menunjukkan cinta. Hingga ia tak harus diuntai dalam kata. Sedang sikap dan perhatian lebih menunjukkan rasa yang kau punya untuk mereka.

Bisa jadi demikian halnya. Namun, alangkah indah jika engkau coba Sabda kekasihNya.

Dari Abu Karimah Al Miqdad bin Ma’dikariba ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Apabila seseorang mencintai Saudaranya, beritahukanlah kepadanya bahwa ia mencintainya” (HR Abu Daud)

Dari Anas ra, ia berkata: Ada seorang laki-laki duduk di hadapan Nabi SAW, kemudian ada seseorang yang lewat di situ, lalu orang yang duduk di hadapan Nabi berkata: “Ya, Rasulullah, sesungguhnya saya mencintai orang itu.”

Nabi SAW bertanya: “Apakah kamu sudah memberitahukan kepadanya?”

Dia menjawab: “belum.”

Beliau bersabda: “Beritahukanlah kepadanya!”

Kemudian dia menemui orang itu dan berkata: “Sesungguhnya saya mencintaimu karena Allah.”

Orang itu menjawab: “Semoga kamu dicintai oleh Zat yang menjadikanmu mencintaiku karenaNya” (HR Abu Daud)

Kawan, pernahkah engkau mengunjungi kerabat, saudara dan sahabat, hanya karena engkau ingin mengunjunginya? Semata karena ingin menjalin tali cinta?

Tidak sempat. Bisa jadi seperti itu alasanmu. Terlalu banyak pekerjaan dan urusan yang tak mungkin ditinggalkan.

Kawan, pernahkah engkau menelepon ‘hanya’ untuk sekedar bersilaturahmi? Sekedar menyapa, mendengar suara di seberang sana dan menanyakan kabarnya?

Ah, tak terpikirkan. Dapat pula itu ungkapmu. Sedang masih banyak nomor terkait kewajiban menunggu untuk dihubungi.

Mungkin ada baiknya, jika engkau dengar sabda Sang Nabi berikut ini.

Dari Abu Hurairah ra, dari nabi SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya ada seseorang akan berkunjung ke tempat Saudaranya yang berada di desa lain, kemudian Allah ta’ala mengutus malaikat untuk mengujinya.

Setelah malaikat itu berjumpa dengannya ia bertanya: “Hendak kemanakah kamu?”

Ia menjawab: “Saya akan berkunjung ke tempat saudaraku yang berada di desa itu.”

Malaikat bertanya lagi: “Apakah kamu merasa berhutang budi padanya sehingga merasa perlu mengunjunginya?

Laki-laki itu menjawab: ”Tidak. Aku mengunjunginya semata karena aku mencintainya karena Allah ta’ala.”

Malaikat kemudian berkata: “Sesungguhnya saya adalah utusan Allah untuk menjumpaimu, dan Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena Allah (HR Muslim)

Kawan, sudahkah kau jabat tangan saudaramu ketika bertemu? Sudahkah kau peluk keluargamu hari ini?

Pasti, seperti itu barangkali kau sampaikan. Karena itu telah menjadi kebiasaan masyarakat.

Bukan, sahabat! Karena ia adalah sesuatu yang disunnahkan. Menjadi penggugur dosa para pelakunya. Mewujudkan cinta para penghasungnya. Semoga berita yang dibawa sahabat dari sang pembawa risalah meneguhkanmu.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: “Nabi SAW mencium Al Hasan bin Ali ra, kemudian Aqra’ bin Habis berkata: Sesungguhnya saya memiliki sepuluh anak, tetapi saya tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.” Maka Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa tidak mengasihi ia tidak akan dikasihi.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra, ia berkata: “Zaid bin Haritsah dtang ke Madinah dan rasulullah SAW sedangn berada di rumahku, kemudian ia datang dan mengetuk pintu, lantas Nabi bangkit dan menarik kainnya, serta memeluk dan menciumnya.” (HR Turmudzi)

Dari Al Barra’ ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “ dua orang islam yang bertemu kemudian mereka berjabat tangan maka dosa kedua orang tersebut diampuni sebelum keduanya berpisah.” (HR Abu Dawud)

Kawan, mengatakan cinta bukanlah tabu, bahkan ia disunnahkan Al musthafa.. Engkau tidak harus romantis untuk melakukannya. Engkau tidak usah malu karena merasa sudah bukan masanya. Karena cinta tidak mengenal usia. Bolehlah ia diungkap oleh anak kepada Bapak dan ibunya, Ayah bunda pada sang putra, keponakan kepada kerabatnya. Seseorang pada sahabatnya. Terlebih bagi pasangan hidupnya. Karena cinta adalah bahasa dunia.

Maka, apa yang menghalangimu mengatakan Aku Cinta Padamu hari ini, dan menunjukkan kasih sayang pada keluarga, saudara, kaum kerabat dan sahabat? (@az, jelang tengah malam)

Abu Salma

Homepage Pribadi Abu Salma Muhammad

Blog Abu Hudzaifah

Menghidupkan Sunnah Mematikan Bid'ah

Addariny's --- Centre

Meniti Jejak, Para Salafus Sholih yg Bijak

Aisyna haniifah

sibukkanlah dirimu dengan karya yang bisa mengharumkan namamu di hari akhir

bloginismeiga

Ekspresikan Diri dengan Cerita

Perkembangan Islam di Nusantara

merenung Islam masa lalu, merekam Islam masa kini, mereka Islam masa depan

Catatan Cinta Sahaja

AKU BELAJAR DARI KALIAN DAN AKU MENULISKANNYA

Cahyaiman's Blog

A fine WordPress.com site

Ideologic Photographer's Blog

writing and taking photos are the only way for me to speak up

KAMI DARI SEMUA : IndonesiAn BlogWalker

Blogging... Way I Get Relax a little while Learning     

Draft Corner

A Place for a Dreamer

Perjalanan Panjang

Tentang Hidup, Asa dan Cinta

blognoerhikmat

lihat dengan kata.baca dengan hati

Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

ADNANOMATIC

Blog Pribadi Abdullah Adnan

Jendela Puisi

serumpun puisi dari hati yang merindu

DewanSyura Weblog

Just another WordPress.com weblog

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Barbados Underground

News, Politics, Opinions, Sports, Culture, Religion and Media