Kiat Mendidik Anak Mencintai Al Qur’an

Salah satu indikasi orang tua yang mendapat kebahagiaan akhirat adalah ketika anak-anak mereka menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah. Mendidik anak menjadi shalih/ah salah satunya dengan menjadikan mereka mencintai Al Qur’an.

1. Kewajiban orang tua membangun keteladanan dalam praktek semua kehidupan, tidak hanya Al Quran. Bahasa praktek lebih fasih daripada bahasa teori. Contohnya saja ketika kita mengajarkan shalat kepada seseorang kalau hanya dengan memberikan buku, dalam waktu seminggu mungkin orang tersebut belum bisa melakukan shalat dengan benar. Jadi perlu diberikan contoh nyata. Sebagian manusia belajar dari praktek. Maka, setiap hari praktekkan Al Quran. Anak-anak itu akan selalu merekam suasana/kebiasaan yang dilakukan oleh orang tuanya.

Rumah yang baik adalah rumah yang berfungsi sebagai masjid dan sekolah, menjadi tempat ibadah dan belajar. Jangan jadikan rumah sebagai rumah pasar, isinya terus-menerus mengurusi uang, kekayaan, untung rugi. Atau bahkan ring tinju atau sarana pertengkaran. Untuk itu yang pertama kali mengkondisikan dan menerapkan konsep ini adalah bapak ibunya.

2. Mengajarkan Al Qur’an.

Apa yang disebut mengajarkan Al Qur’an? Yang dimaksud mengajarkan adalah agar anak bisa melafalkan bunyi Al Quran. Kebanyakan para orang tua mulai membuat anak melek huruf di usia 3.5 tahun. Sebenarnya lebih luas. Mengajarkan Al Qur’an tidak terbatas pada mereka melek huruf, tetapi mulai melatih lisan anak kita membunyikan lafal Al Quran dengan cara mentasmi’/memperdengarkan Al Qur’an dan itu tidak perlu menunggu usia anak mencapai 3.5 tahun. Mulai anak lahir bahkan mulai anak masih di dalam kandungan.

Mengapa tahapan ini penting? Indera yang sangat penting yang dimiliki manusia andalah pendengaran. Indera pertama dan terakhir yang berfungsi pada diri manusia juga pendengaran. Bayi yang baru saja lahir disunnahkan untuk diadzankan karena ia sudah mampu merespon adzan. Ketika manusia mengalami sakaratul maut yang dianjurkan adalah membisikkan Laa illaha illa Allah. karena indera yang berfungsi adalah pendengaran.

Ayat inna sam’a wal bashara (sesungguhnya pendengaran dan penglihatan) dalam Al Qur’an diulang 13x. Mendahulukan pendengaran daripada penglihatan.

Indera pendengaran mempunyai nilai lebih dalam pengajaran. Kalau mati lampu, indera yang bekerja adalah pendengaran. Kalau belajar bahasa, yang utama adalah listening. Kita tinggal di negeri asing walau belum pernah belajar tulisan, kalau sering mendengar percakapan akan lebih mudah. Sering pula kita dapati anak seorang penyanyi kelak menjadi penyanyi karena sering mendengar orang tuanya menyanyi. Surat Yasin hafal padahal tidak pernah menghafal tapi sering mendengar dibacakan dalam majelis.

Oleh karena itu, fungsikan indera pendengaran semaksimal mungkin, bisa orang tua sering membacakan, mendengarkan murottal, dan lain-lain. Dengan demikian, anak akan mudah mengartikulasikan bunyi Al Quran dengan baik.

Jadi kiat yang kedua adalah sering mendengarkan dan sering membacakan. Al Quran diwariskan dari generasi ke generasi juga dengan tasmi’ (metode mendengar). Dengan demikian, walaupun anak belum belajar tajwid, dia akan bisa membaca dengan baik.

3. Orang tua menciptakan lingkungan atau bila tidak memungkinkan, masukkan ke pesantren yang baik

4. Memberikan nasihat terus menerus tentang keutamaan Al Qur’an hingga merasuk ke dalam jiwa anak

5. Membangun kebiasaan.

Kebiasaan dibangun tidak hanya waktu kecil tetapi terus sampai dewasa. Kebiasaan dibuat sampai otomatis anak bisa melakukan walau tanpa ada perintah. Misal kebiasaan bangun sebelum subuh, kebiasaan tilawah setelah subuh dan diantara waktu maghrib dan Isya, dan kebiasaan-kebiasaan Qur’ani lainnya

6. Menghargai prestasi kemajuan walaupun sedikit. Reward diberikan atas prestasi yang diraih. Tentunya reward dalam bentuk yang baik dan bermanfaat, bisa berupa tabungan, rihlah (tamasya), hadiah buku, hadiah umrah bila mencapai hafidz, dan sebagainya.

Namun tentu saja orang tua tetap berusaha memberikan penyadaran, sehingga ketika anak sudah lebih besar mereka paham bahwa apa yang dilakukannya adalah bagian dari ibadah. Jadi tidak terus-menerus memberikan reward berupa hadiah-hadiah semacam di atas.

7. Doa

The last but not the least adalah doa yang tulus dan sungguh-sungguh dari orang tua, memohon bimbingan Allah SWT agar selalu menjaga anak-anak kita dimanapun mereka berada.

About AMS

....Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka”,(Abu Bakar As-Shiddiq ra) " bagiMulah segala puja puji, dgn hati badan dan lisanku.....

Posted on 2 September 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Kiat Mendidik Anak Mencintai Al Qur’an.

Komentar ditutup.

Abu Salma

Homepage Pribadi Abu Salma Muhammad

Blog Abu Hudzaifah

Menghidupkan Sunnah Mematikan Bid'ah

Addariny's --- Centre

Meniti Jejak, Para Salafus Sholih yg Bijak

Aisyna haniifah

sibukkanlah dirimu dengan karya yang bisa mengharumkan namamu di hari akhir

bloginismeiga

Ekspresikan Diri dengan Cerita

Perkembangan Islam di Nusantara

merenung Islam masa lalu, merekam Islam masa kini, mereka Islam masa depan

Catatan Cinta Sahaja

AKU BELAJAR DARI KALIAN DAN AKU MENULISKANNYA

Cahyaiman's Blog

A fine WordPress.com site

Dandelion Seed

'writing' is the only way for me to speak up

KAMI DARI SEMUA : IndonesiAn BlogWalker

Blogging... Way I Get Relax a little while Learning     

Draft Corner

A Place for a Dreamer

Perjalanan Panjang

Tentang Hidup, Asa dan Cinta

blognoerhikmat

lihat dengan kata.baca dengan hati

Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Abdullah Adnan

Personal Blog of Abdullah Adnan

Jendela Puisi

serumpun puisi dari hati yang merindu

DewanSyura Weblog

Just another WordPress.com weblog

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Barbados Underground

Barbados News, Politics, Opinions, Sports, Culture, Religion and Media

Michael Powers 1:1 Photography.

Self portraits, every day.

%d blogger menyukai ini: