Daily Archives: 27 Agustus 2012

Semua kerana Panggilang syariat-MU..


Walau siapa pun kita,bertudung labuh,bertudung biasa,atau juga yang berniqob,kita SEMUA adalah manusia biasa,yang LEMAH ada cacat celanya.

Sekiranya ada sahabat kita yang terlalai,terlupa atau terleka,tolonglah ingatkan dia,saling menasihati dengan SEBAIK CARA.

Tiada seorang pun yang maksum dari segala DOSA…bersama-samalah kita berusaha menjadi SEBAIK-BAIK hamba ALLAH AZZA WA JALLA..!

Setiap apa saja ujian yang mendatangi kita,berbaik sangkalah pada ALLAH.Bertenang dan fikirkan hikmahnya dengan rasional.InsyaALLAH pasti dan pasti ALLAH tidak akan pernah menzalimi hamba-NYA.

Awalnya aku tidak percaya diri..dengan pakaian labuh tertutup rapi,kawan-kawan kata aku tidak trendy, wanita ketinggalan zamanlah, TAPI…abi kata cantik,begitu juga umi…

Ku ulurkan jilbabku hingga terasa damai hatiku,ku longgarkan pakaianku sehingga tertutup bentuk tubuh badanku..

Ku lakukan semua demi cinta pada Rabbiku,dan ku berbisik dalam hatiku,ya ALLAH..moga sahabat-sahabatku juga akan mentaati TUNTUNAN PAKAIAN syariat-MU..

DUHAI SAHABAT yang bermimpi sanjungan,cantik bukan berarti buka bukaan,cantik bukan berarti selalu berdandan dan cantik bukan berarti seorang pujaan.

Ya ALLAH.. aku bukanlah seorang yang lepas (dari dosa)…maka aku memohon keampunan…dan aku bukanlah orang yang kuat (dalam beribadah)…maka aku memohon pertolongan…dan tiada bantuan dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) ALLAH…

Iklan

Jika Merasa Jauh


Pernahkan kamu merasa “jauh” pada Allah?
Pernahkah kamu merasa “lupa” pada Allah?

Sesungguhnya itu manusiawi sekali..
Namanya iman seseorang, kadang berada di atas, kadang berada di bawah. Fluktuatif.

Tapi pahamilah..
Sesungguhnya bukanlah Allah yang menjauhi kita…
Bukanlah Allah yang melupakan kita…
Bukanlah Allah yang meninggalkan kita…
Kitalah… Ya… Kitalah yang sesungguhnya menjauhi, melupakan, dan meninggalkan-Nya.

Tapi, meskipun kita sudah berbuat demikian, Allah dengan Maha Sabar menunggu kita untuk kembali mendekat… Menunggu kita untuk kembali mengingat-Nya dan mengikuti apa kehendak-Nya…

Berapa banyak waktu yang kita sia-siakan tanpa mengingat-Nya?
Berapa banyak perbuatan yang kita lakukan yang tidak menyenangkan-Nya?

Lalu lihatlah… Apa yang ada di sekeliling kita?
Allah tetap memberikan segalanya untuk kita…
Cahaya matahari yang menyinari… Udara yang secara gratis dapat kita hirup…
Fisik yang masih kuat untuk melakukan berbagai aktivitas… Dan masih banyak lagi.

Betapa tak terhingganya nikmat yang telah Dia anugarehi kepada kita semua. Betapa banyak, bahkan terlalu banyak… Subhanallah..

Sahabat…
Di dalam QS. Asy-Syam ayat 9 dan 10, Allah SWT berfirman, “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”

Dari ayat tersebut, Allah dengan jelas menganjurkan kita untuk senantiasa mensucikan diri kita, juga membersihkan hati kita. Bahkan, Dia menyebut “beruntung” bagi manusia yang mampu berbuat demikian dan “merugi” bagi yang berbuat sebaliknya.

Ketahuilah…
Sesungguhnya jika kita merasa sedang jauh dari Allah, dan kita dapat menyadari hal tersebut, maka itu pertanda baik.
Karena seorang ulama sufi mengatakan, “Sesungguhnya kebaikan jiwaku akan terlihat ketika aku mengetahui kerusakannya.”
Artinya, kita memang harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam hati kita dan mengevaluasi kenapa kita bisa sampai jauh dari Tuhan yang Maha Pencipta.

Ibnu Qayyum mengatakan, “Carilah kebahagiaan di dalam tiga hal: ketika kau sedang mengingat Allah, ketika kau sedang shalat, dan ketika kau sedang membaca Al-Quran. Jika kau tak menemukan kebahagiaan di dalam tiga hal tersebut, maka sesungguhnya hatimu sedang kotor.”

Maka..
Sudah sepantasnya kita mengukur hati kita, memuhasabahi apa yang sudah kita perbuat, dan menilai bagaimana amalan kita selama ini.

Sudahkah shalat kita khusyu? Sudahkah kita berbuat baik pada kedua orang tua kita? Sudahkan kita berinfak dengan harta terbaik yang kita miliki? Sudahkah kita memberikan manfaat dan kemudahan bagi sesama?

Jujurlah pada hatimu.. Jawablah pertanyaan demi pertanyaan dengan hati yang objektif, agar kita dapat menuju ke arah yang lebih baik lagi…

Dan hari ini…
Seorang kawan senior menasihati saya…
Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mendidik jiwa kita agar terus mengarah kepada kebaikan. Apa saja?

Pertama, paksakanlah diri kita untuk melakukan kebaikan. Paksa saja diri kita jika kita malas untuk shalat, ngaji, sedekah, belajar, dan berbuat baik lainnya… Karena dengan memaksakan diri kita pada kebaikan, maka lama kelamaan diri kita akan enjoy melakukan kebaikan tersebut hingga kita dapat mempersembahkan yang terbaik dari yang kita lakukan tersebut.

Ketauhilah bahwa Allah senantiasa menilai segala amal perbuatan kita, bukan semata-mata seberapa banyak kita melakukan hal tersebut, melainkan seberapa baik dan seberapa konsisten kita melakukan hal tersebut. Tentu saja yang ideal adalah banyak, baik, dan konsisten. Namun… untuk mencapai kondisi ideal tersebut, kita membutuhkan proses. Dan proses tersebut tergantung seberapa kuat tekad dan aplikasi yang kita lakukan…

Kedua, jangan pernah menyerah untuk melawan kemaksiatan dan kerusakan.
Kita tidak boleh lemah untuk mencegah diri kita dan orang lain dari berbuat yang dilarang. Jujur… Saya masih lemah dalam hal ini.. 😥 Tapi harus berusaha dengan sekuat tenaga. Hindari diri kita dari berbuat dosa… Imbangilah dengan perbuatan baik yang dapat kita lakukan.

“Jika kau melakukan sebuah kesalahan, maka iringilah dengan beberapa kebaikan.”

Ketiga, ingatlah bahwa jika kita melakukan kemaksiatan, melakukan apa yang Allah larang, maka kita akan keluar dari pertolongan Allah.. Naudzubillah.. 😥
Karena kemaksiatan ini akan membuat diri kita dikendalikan oleh hawa nafsu kita. Maka… Saat kita melakukan kemaksiatan, saat kita melakukan keburukan… Kita lupa.. Lupa bahwa Allah sedang melihat kita… Lupa bahwa malaikat sedang mencatat apa yang sedang kita kerjakan… Lupa bahwa seluruh tubuh ini kan menjadi saksi di yaumul akhir kelak…

Keempat, perbanyaklah melakukan tadabur dan tafakur ayat-ayat Allah. Tadabur adalah meresapi ayat-ayat kauliyyah atau ayat-ayat yang Allah turunkan di dalam Al-Quran. Sedangkan tafakur adalah mempelajari ayat-ayat kauniyyah alias alam semesta ciptaan Allah.

Sesungguhnya dengan memperhatikan isi kandungan Al-Quran dan melihat serta memikirkan alam ciptaan Allah dan segala isinya, maka kita akan menyadari betapa diri kita amat kecil… Tiada apa-apanya… Mungkin kita hanya setitik kecil di antara bumi, langit, dan dunia ini. Lalu… Siapa kita? Pantaskah kita untuk sombong? Pantaskah kita untuk melanggar hak Allah? Pantaskah kita hanya berdiam diri?

Maka, kita harus melakukan sesuatu yang bermanfaat, sesuatu yang membuat diri kita semakin baik dari hari ke harinya, sesuatu yang membuat Allah mencintai kita. Karena.. Jika Allah sudah mencintai seorang hamba, maka Dia kan umumkan kepada jagat raya bahwa Dia mencintai hamba tersebut sehingga alam raya kan ikut mencintainya… Subhanallah…

Sahabat…
Bukanlah saya lebih baik dari sahabat sehingga menuliskan ini semua.
Bukan… Bukan karena itu…
Tapi sesungguhnya karena saya hari ini benar-benar merasa tersentuh atas nasihat dari kawan saya ini. Dan saya ingin membagikannya kepada sahabat semua… Semoga ada kebaikan yang dapat ditebar melalui tulisan ini…

Ayo kita perbaiki diri kita… Sucikan hati kita… Dekatkan diri kita kepada Allah.. Berbuat yang terbaik, benahi akhlak kita, dan perbanyak kebermanfaatan kita bagi sesama…

Berkontribusilah mulai dari apa yang dapat kita lakukan, meskipun itu kecil. Karena sesungguhnya, hal-hal yang besar, pasti akan bermula dari hal yang kecil, bukan?

Jika merasa jauh, maka dekatilah dengan amal baik yang dapat kita lakukan 🙂

Kupinang Kau dengan Air Mata


ANGIN-ANGIN sejuk mengipas-ngipas wajah manusia. Mengepung anggota tubuh rakyat Parepare. Tetapi, seorang lelaki berusia 21 tahun menuai kegerahan di kota itu.

“Aku ingin menikahimu!” tegas suara Umar di ujung telepon sembari mengucurkan keringat melalui celah leher bajunya.

“Iya, aku juga siap!” suara wanita itu menjawab keseriusan Umar. Perasaan Umar serasa terbang bak burung yang baru lepas dari sangkarnya. Keringatnya mengering tiba-tiba di tepi leher bajunya.

Dua manusia tengah menapaki jalan menuju jenjang kesucian. Mereka saling berjauhan. Umar berlibur di Kota Parepare, sementara wanita itu di Kabupaten Pangkep. Meskipun jarak mereka berjauhan, tapi komunikasi lewat telepon itu semakin memperkecil jarak tersebut. Bahkan semakin dekat, hanya 5 cm.

Enam bulan yang lalu…

Umar merupakan mahasiswa semester V. Kegiatannya selain kuliah adalah asisten Laboratorium Komputer. Dunia luas ini yang semakin bertebaran ilmu pengetahuan membuat dirinya berkomitmen tetap maju pada segala disiplin ilmu.

“Meskipun saya sudah di belakang, tapi saya tidak mau terbelakang!” pekik motto hidupnya. Sehingga sejak di bangku kuliah, ia selalu mendapatkan penghargaan dari beberapa dosen. Walhasil, salah seorang dosen komputer hendak mengangkatnya sebagai asisten. Setelah terangkat, Umar menuai kesibukan begitu banyak. Jadwal istirahat semakin kurang, jam belajar menipis. Membuatnya mengeluh di dalam hati.

“Letih juga pekerjaan demikian!” suara hati Umar ketika itu.

Dua pekanan berlangsung praktikum komputer, salah seorang mahasiswi yang diajar Umar mulai melirik. Umar tak menyangka hal demikian. Wanita itu merupakan adik kelasnya. Hanya berbeda setahun. Kadang wanita itu menelpon, membicarakan tugas-tugas komputer. Bahkan tanpa disangka Umar, wanita itu menjadikannya tumpahan hati. Meminta solusi dari persoalan yang dihadapi wanita itu. Hal demikianlah membuat hubungan mereka berdua semakin erat. Bukan lagi sebatas adik kelas. Lebih dari itu!

Hari-hari letih yang dialami Umar berubah. Keletihan tak lagi berkunjung. Kobaran semangat datang. Hati menggebu-gebu menyapa.

“Inikah cinta?” suara hati Umar berbisik di bawah temaram lampu kamarnya.

Tanpa disangka, Umar hendak menyatakan cinta kepada wanita itu. Namun, cinta Umar tak seperti lelaki lain yang hanya mencari kepuasan sementara. Cinta Umar tak sinonim pacaran.

“Pacaran itu tidak pernah dilakukan para nabi, sahabat, dan ulama!” sebutnya jika berdebat.

Kepribadian Umar adalah menelaah buku-buku Islam, mulai dari perkara dasar Islam hingga perkara luas: buku fiqih, aqidah, tauhid, hukum-hukum, dan mengenai pemerintahan Islam.

Komitmennya yaitu meminang wanita itu. Memang sejak semester I, ia berangan-angan menikah.

“Menikah merupakan sunnah rasul itu. Hubungan lelaki dan wanita dalam ikatan nikah adalah halal, sementara selain itu haram. Menikah harus dipercepat. Jika tidak, maka fitnah akan datang.” kutipan buku yang dibaca Umar.

Umar berusaha mengenalnya lebih dekat. Wanita itu bernama Hj. Nurnita. Label “Hj” merupakan singkatan dari Hadjah, artinya seorang wanita yang telah menunaikan rukun Islam kelima: naik haji bagi yang mampu. Umar terkaget-kaget ketika mengetahui wanita itu sudah berhaji. Umur 20 tahun, menurutnya usia sangat muda dan tidak semua orang pergi ke Baitullah. Hanya strata konglomerat bisa menuju ke sana.

“Pasti ia anak orang kaya!” celoteh Umar dalam hati.

Kadang pula bersemayam dalam hatinya untuk tidak melamarnya, mengingat mahar wanita seperti ini tinggi. Akan tetapi, kendala demikian bukan penghalang yang membuatnya mengurungkan niat meminangnya. Sebab, sejak dahulu ia menanti mahligai pernikahan ini. Ia menanti saat-saat terindah menyempurnakan setengah dari agama: menikah. Bahkan, dalam setiap do’a di antara adzan dan iqamah, kerap ia selipkan permintaan ini,

“Ya Alloh, mudahkanlah aku untuk menikah!” pintanya sambil merundukkan kepala, berharap maharnya murah.

SubhanAlloh. Ternyata do’a Umar dikabulkan.

“Tenang saja, kakak. Saya akan membantu menambah uang kakak!” ujar wanita itu ketika Umar mengeluh tinggihnya putusan maharnya nanti.

Semangat Umar semakin membara. Wanita itu menepis keluhannya. Umar makin cinta kepadanya. Pada kesempatan ini, ia mencoba memberanikan diri, maju ke rumah wanita itu. Umar menelpon wanita itu,

“Kapan aku ke Pangkep menemui orang tuamu?” pintanya berharap datang ke orang tua wanita itu untuk melamar.

“…..!” senyap wanita itu. Tak mengira Umar serius ingin melamarnya. Wanita itu terkaget-kaget.

“Nanti saja, Kak. Nanti, saya kabari jika orang di rumah sudah siap!” Hati Umar tak kuasa menahan penantian. Menunggu baginya menyakitkan.

Tiga hari kemudian…

Umar kembali ke kota asalanya: Makassar. Tak terasa waktu yang dinanti-nantika tiba. Wanita itu menelpon. Detak jantung umar semakin deras. Berfluktuasi tak beraturan. Menanti ucapan wanita itu. Apakah ada panggilan ke rumahnya atau tidak. Sungguh, detik-detik menegangkan.

“Iya, besok kakak bisa ke rumah!”

Hati Umar meletup-letup. Akhirnya bisa berkunjung menemui orang tuanya. Umar menyiapkan segala-galanya, penampilan fisik mulai ditata, dan meminta kepada Rabb-nya,

“Ya Alloh, mudahkan!”

Esok hari, pukul 08.00, Umar menuju daerah kecil itu: Pangkep. Perjalanan sekitar 300 km. Setiap kali ia melempar pandangan ke luar jendela mobil, terbetik dalam hatinya, “Aku akan menghadapi dua keadaan genting. Entah diterima atau ditolak!”

Awan-awan kapas berwarna biru lembut turun. Mengapung rendah hendak menyentuh permukaan laut yang surut jauh, itulah Kepulauan Pangkep. Tepat pukul 14.00, Umar tiba di daerah yang luasnya 1.112 km2 itu. Umar tak langsung menuju rumah wanita itu. Tapi ia ke masjid menunaikan shalat dzuhur yang akan di jamak-qashar dengan shalat ashar. Mengingat dirinya adalah mushafir. Seusai shalat, Umar kembali menengadahkan tangannya ke atas, berdo’a dengan penuh pengharapan kepada Rabbnya,

“Ya Alloh, mudahkanlah segalanya!”

Dan ia menutup do’anya,

“Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu.”

“Kring… Kring… Kring!” suara HP umar berbunyi. Ternyata wanita itu menelpon sedang memanggil Umar segera ke rumahnya.

“Silahkan ke rumah, Kak!” ujar wanita itu memanggil lembut Umar.

Sekali lagi, jantung Umar terengah-engah bersiap menghadapi peristiwa besar dalam hidupnya. Ini pertama kalinya ia melamar wanita dan tanpa di temani seorang pun.

Jarak masjid ke rumah wanita itu, cukup 70 langkah. Umar masuk ke rumahnya sembari mengucapkan salam di daun pintu rumahnya. Lalu, ia dipersilahkan masuk oleh keluarga wanita itu. Umar pun bergegas masuk dan duduk di sofa mewah. Tepat di depan tempat duduk Umar, ibu wanita itu duduk. Mulailah Umar menyampaikan niatnya,

“Ibu, aku memiliki niat baik. Aku hendak melamar anak gadis, Ibu!” ujar Umar yang sangat meyakinkan.

Ibu wanita itu tergegun sejenak melihat keberanian Umar. Ibu itu tak langsung menjawab, ia mendiskusikan dengan beberapa anaknya dulu. Setelah diskusi, ibu itu masuk ke dalam rumah. Saudari-saudari wanita itu mewakili jawaban ibu itu,

“Dek, kami masih mau Hj. Nurnita kuliah, bukan menikah!”

Umar mematung. Jawaban itu cukup ringkas, tapi mampu meretakkan dan meledakkan cita-cita Umar. Umar mengetahui bahwa benang merahnya adalah tak jadi menikah dengan wanita idamannya.

“Lelaki itu kuat!” kata hatinya paling dalam. Membuatnya tak putus asa. Meskipun pihak keluarga wanita menolak, ia tak ambil hati.

“Mungkin Alloh memberikan jodoh yang lain!” ujar Umar sambil merundukkan padangannya ke lantai. Umar menarik napas panjang-panjang dan bertutur,

“Saya permisi dulu!” intonasi suara Umar melemah dan gagap.

Akhirnya, Umar kembali ke Makassar dengan penuh kepedihan.

Di atas mobil sewa itu, angin dingin menyerbu lewat jendela, menampar-nampar wajah Umar. Ia melempar pandangan ke sana sembari berkata,

“Alhamdulillah dalam segala keadaan. Ku telah menunaikan kewajibanku sebagai lelaki yang mencintai seseorang. Bukanlah keberhasilan diukur dengan diterimanya lamaran, tapi bagiku keberhasilan itu adalah mampu melamar wanita itu di depan ibunya.”

Di ujung ekor mata Umar, terlihat kesedihan mendalam. Meluap-luap kekecewaan. Namun, Umar seorang lelaki kuat, ia tak mau menitikkan air matanya. Ia selalu menepis kekecewaan itu dengan mengigat firman Alloh,

“Bisa jadi di sisimu itu baik, tapi di sisi Alloh itu buruk bagimu.”

Tiga bulan Umar trauma atas kejadian ini. Ini memoar tak terlupakan selama hidupnya. Kadang linangan air mata menetap lama di selaput matanya. Hanya do’a sebagai pelipur lara baginya. Dalam do’anya, ia berucap,

“Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu.” Ia lebih baik tidak mendapatkan wanita itu, ketimbang tidak mendapatkan hidayah dari Alloh

Mukjizat Nyanyian Seorang Kakak


Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee , USA . Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua.

Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya pertama yang baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya.

Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu.

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan.

Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen ; ” bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi….”

Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain halnya dengan kakaknya Michael , sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus…!!

Mami, … aku mau nyanyi buat adik kecil..!! Ibunya kurang tanggap.

Mami, … aku pengen nyanyi..! Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya.

Mami, … aku kepengen nyanyi..! Ini berulang kali diminta.

Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil.

Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak.

Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik, setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup..!

Ia dicegat oleh suster didepan pintu kamar ICU. Anak kecil dilarang masuk!. Karen ragu-ragu. Tapi, suster…. suster tak mau tahu ; ini peraturan ! Anak kecil dilarang dibawa masuk!

Karen menatap tajam suster itu, lalu katanya :

“Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya..!”

Suster terdiam menatap Michael dan berkata, tapi tidak boleh lebih dari lima menit!.

Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya … lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring

“… You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey …”

Ajaib! si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya.

You never know, dear, How much I love you. Please don’t take my sunshine away.

Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan terus, … terus Michael! teruskan sayang! … bisik ibunya …

The other night, dear, as I laid sleeping, I dream, I held you in my hands … dan sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur …

I’ll always love you and make you happy, if you will only stay the same …

Sang adik kelihatan begitu tenang … sangat tenang.

Lagi sayang! bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan … adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai … lalu tertidur lelap.

Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri.

Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat luar biasa! tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.

Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa memang Kasih Ilahi yang menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahi pun membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan “How much I love you”.

Dan ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil “Michael” untuk memberi kehidupan.

Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagi_NYA bila IA menghendaki terjadi….

..::♥::..
Kadang hal-hal yang menentukan , dalam diri orang lain …
Datang dari seseorang yang kita anggap lemah …
Hadir dari seseorang yang tidak pernah kita perhitungkan …

Blog Abu Hudzaifah

Menghidupkan Sunnah Mematikan Bid'ah

Addariny's --- Centre

Meniti Jejak, Para Salafus Sholih yg Bijak

Aisyna haniifah

sibukkanlah dirimu dengan karya yang bisa mengharumkan namamu di hari akhir

bloginismeiga

Ekspresikan Diri dengan Cerita

Perkembangan Islam di Nusantara

merenung Islam masa lalu, merekam Islam masa kini, mereka Islam masa depan

Catatan Cinta Sahaja

AKU BELAJAR DARI KALIAN DAN AKU MENULISKANNYA

Cahyaiman's Blog

A fine WordPress.com site

Ideological Thinker

We write to SPEAK UP

Indonesian Blogwalker

There are far better things ahead than any we leave behind

Draft Corner

A Place for a Dreamer

Perjalanan Panjang

Tentang Hidup, Asa dan Cinta

blognoerhikmat

lihat dengan kata.baca dengan hati

Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Abdullah Adnan

Blogger | Motovlogger

Jendela Puisi

serumpun puisi dari hati yang merindu

DewanSyura Weblog

Just another WordPress.com weblog

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Barbados Underground

Bringing News and Opinions to the People

Michael Powers 1:1 Photography.

Self portraits, every day.

Latinaish

A community for bilingual, bicultural gente

Fragriver

Finding a place in this world...