Gadis Wayang (Serpih 3, final excm)

Serpih 3 ..

Hosh,,, hosh,,, hosh,,, huft… penatnya…

Suara cekitan sepatu bergesekan dengan permukaan tanah. Nafasnya terengah – engah mengikuti arah lari kakinya yang semakin terburu – buru. Membawa sebuah tas berwarna hitam dan isisinya penuh dengan buku.. terlihat ribet sebab  membawa barang bawaan yang banyak.

Kemudian, membanting tubuhnya di atas kursi dan sedikit menyandarkan kepalanya di atas meja.

“ kau hampir saja telat,  2 menit lagi prof akan segera ngisi kelas..
As “ bisik Zizah. Aku masih diam dan merasakan detak jantungku yang sedari tadi terlalu cepat untuk memompa semua aliran darah keseluruh tubuhku.

“ apakah kau tak bisa membayangkan betapa ganasnya wajah mu’alim itu merah padam seperti kepiting rebus ?”. Bisiknya lagi. Dan akhirnya aku turut mengomentari bisikan halus Zizah.

“ aku tak penah melihat bagaimana warna kepiting rebus, Zah. Karena aku tak pernah makan yang namanya kepiting rebus “. ingatkan zizah tanya menyukai kepeting

“ aku juga tak pernah, As “. Sahutnya cepat.

“ lantas, kenapa kau berkata seperti itu? Seakan kau menyukainya “. Tanyaku heran.

“ aku hanya sekedar melihatnya saja di televisi, itu dibuat sebagai salah satu masakan jepang “. Bisiknya menggoda, aku tahu zizah sedang membayangkan betapa lezatnya masakan jepang.

“ jangan bilang padaku, kalau kau ingin memakan masakan jepang itu, Zah “. Dengan gerakan reflek, kepalanya menoleh ke depan mukaku dan menatap kedua mataku dengan tatapan tanpa ekspresi.

“ aku tak ingin memakannya, As. Aku hanya membayangkan bagaimana cara orang – orang yang pernah menjajah Negara ini memakannya, kau tau kan kalau kulit kepiting itu keras sekali ? ”.

“ entahlah ?”. sahutku pelan.

“ tak usahlah dibahas lagi, As. Kau sepertinya tak tertarik dengan topik bahasan ku pagi ini “. Dia mulai menyerah menghadapiku yang melawan pembicaraan sekenanya saja.

“ kau ingin tau kenapa aku tak tertarik dengan topikmu pagi ini?”. Tanyaku menggodanya. Dia mengangguk antusias. Dan mendekatkan telinganya ke arah mulutku.

“ karena aku tak punya televisi “. Kataku pelan mendesis. Zizah menghela nafas besarnya. Dia juga memaklumi dengan keadaanku yang seperti ini. Ku lempar senyum kecilku padanya. Dan tampak Ahmad sedari tadi menertawakan kami. Ku dapatkan rasa kemenangan dari perdebatan pagi ini. Sedangkan Zizah layu karena topiknya yang tak laku. Zizah teman sebangkuku di kelas. Wajahnya lumayan cantik, suaranya kecil seperti bocah ingusan, postur tubuhnya juga tak setinggi postur teman – teman sebayanya. Dan satu hal yang harus kau ketahui kawan, zizah adalah gadis seribu bahasa. Menurutku begitu. Dia selalu memiliki topik – topik aneh setiap paginya untuk diperdebatkan denganku atau pun Ahmad dan teman – teman yang lainnya. Dia terlalu suka dengan kosakata – kosakata asing bagi telinga kami dan menjadikannya sebuah ritme puitis yang terkadang menarik untuk diperhatikan dan terkadang terlalu jenuh untuk di bagikan kepada kami, karena kebanyakan kosakata – kosakata itu tak dimengerti oleh kami. Nilai untuk pelajaran bahasa indonesianya yang selalu tinggi di antara semua pelajar. Dan aku hanya bisa mengekor dengan urutan kedua setelahnya. Apalagi kalau kuperintahakan membuat sebait pantun, alisnya mendadak terangkat dan mukanya berseri seperti adonan donat yang mengembang karena zat – zat pengembangnya. Menggemaskan.

Pernah suatu kali aku tertawa mendengar sebuah ciptaan pantunnya saat bertengkar dengan anak juragan jagung. Nafsunya menggebu ingin memperolok setajam – tajamnya bocah juragan jagung itu.

“ hei cak, kau belum tau sedang berhadapan dengan siapa ?” ancamnya dengan penuh kemantapan bahwa dia akan menjadi pemenang dalam adu mulut melawan anak juragan jagung itu.

“ kau akan merasakan pedas yang teramat setelah mendengar silat lidahku ini cak, kau tak percaya? Baik aku akan buktikan itu “.

Kipas – kipas di atas panggung

Di lihat gadis bernama lilis

Kau memang anak juragan jagung

Tapi sayang tak punya alis

Oh,,,, Zizah, anak juragan jagung itu lari kocar – kacir bukan karena takut padamu, tapi kau disangkanya orang gila. Baru sekali ini aku melihat cara bertarung dengan sejurus pantun yang menggelikan dan uniknya keluar dari mulut imut seorang gadis mungil seperti Zizah. Dengan nada suara tinggi yang amat kecil itu. Melengking.

Hari ini, hari pertamaku final excm . Aku sudah tak sabar lagi menunggunya, meskipun tinggal beberapa detik lagi. Aku ingin melahap semua soal – soal pada selembar atau lebih dari selembar, aku siap mental. Siap untuk bertempur dengan segala macam soal. Aku tak takut karena Emaklah yang memberiku kekuatan, yang memberiku semangat untuk terus bersekolah, kalau Emak saja bersemangat bekerja demi aku, mengapa aku tidak?. Aku juga harus semangat untuk memberikan hasil dari kerja keras Emak. Do’akan aku Emak, bismillah.

Tujuh hari berlalu dengan segala macam soal dari berbagai bidang pengkajianku. Aku yakin ini adalah pertempuran yang sengit dan aku bisa memenangkannya. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin dan Allah yang akan menentukan hasil akhirnya. Dari belakang Semar selalu mendukungku, ia selalu menurut dan memberikan empat jempolnya untuk semua yang aku kerjakan. Tenanglah Semar, kau tak perlu tegang dan was – was. Hal yang terbaik menurutku saat ini adalah berdo’a dan menunggu, menunggu, dan terus menunggu akhir dari pertempuran, kau pun harus begitu. Dan baru aku sadari pertempuran yang paling hebat dalam bulan – bulan terakhir ini. Pertempuran yang hebat bukanlah melahap habis semua pertanyaan – pertanyaan intens dari selembar kertas putih, namun pertempuran yang hebat adalah disaat aku harus menahan nafsu dan menunggu hasilnya. Tak sabar ingin melihat hasil akhirnya.

Aku, Emak, Semar, Ahmad, Zizah, dan pelajar lainnya masih menunggu. Menunggu hasil akhir. Hasil dari otak yang berfikir. Hasil dari usaha berlajarnya setahun ini. Tingkat menengah ke atas menurutku bukanlah tingkat yang sembarangan walaupun perguruan tinggi masih berada di atasnya. Meskipun begitu, setiap langkah memerlukan pengorbanan mendalam bagi orang – orang udik sepertiku. Berusaha untuk terus bisa mengepulkan asap dapur agar semakin tebal, untuk nilai sebutir nasi dan secuil pendidikan, serta untuk mendapatkan ridho dari-Nya. Semua itu rencana Allah untuk menghadapi hidup yang telah diciptakan bagi para khalifah di atas bumi ini. Allah tak mengajarkan kita bagaimana cara untuk melakukan sesuatu. Namun, Allah mengajarkan dan menolong kita untuk menemukan cara kita sendiri bagaimana menghadapi hidup yang baik dan sesuai dengan apa yang diperintahkannya. Buat apa kau diberi otak jika tak mau menggunakannya. Menghadapi segala ujian – ujianNya dengan tetap tersenyum dan merasakan syukur yang teramat dalam. Karena Allah masih ada dalam setiap hembusan nafas kita. Alhamdulillah.

“ you cannot teach a man anything, but you can only help him to find it within himself “

About AMS

....Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka”,(Abu Bakar As-Shiddiq ra) " bagiMulah segala puja puji, dgn hati badan dan lisanku.....

Posted on 10 Agustus 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Gadis Wayang (Serpih 3, final excm).

Komentar ditutup.

Abu Salma

Homepage Pribadi Abu Salma Muhammad

Blog Abu Hudzaifah

Menghidupkan Sunnah Mematikan Bid'ah

Addariny's --- Centre

Meniti Jejak, Para Salafus Sholih yg Bijak

Aisyna haniifah

sibukkanlah dirimu dengan karya yang bisa mengharumkan namamu di hari akhir

bloginismeiga

Ekspresikan Diri dengan Cerita

Perkembangan Islam di Nusantara

merenung Islam masa lalu, merekam Islam masa kini, mereka Islam masa depan

Catatan Cinta Sahaja

AKU BELAJAR DARI KALIAN DAN AKU MENULISKANNYA

Cahyaiman's Blog

A fine WordPress.com site

Dandelion Seed

'writing' is the only way for me to speak up

KAMI DARI SEMUA : IndonesiAn BlogWalker

Blogging... Way I Get Relax a little while Learning     

Draft Corner

A Place for a Dreamer

Perjalanan Panjang

Tentang Hidup, Asa dan Cinta

blognoerhikmat

lihat dengan kata.baca dengan hati

Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Abdullah Adnan

Personal Blog of Abdullah Adnan

Jendela Puisi

serumpun puisi dari hati yang merindu

DewanSyura Weblog

Just another WordPress.com weblog

Catatan Kaki

Kisah ke mana kaki ini melangkah...

Barbados Underground

Barbados News, Politics, Opinions, Sports, Culture, Religion and Media

Michael Powers 1:1 Photography.

Self portraits, every day.

%d blogger menyukai ini: