Daily Archives: 9 Agustus 2012

Merdeka di bulan Ramadan


Ramadan, dari kata ramada – yarmidu (bahasa apa UKHTI? bahasa timbuktu, dek!! Ya bahasa arab, laah). Maknanya ‘panas, gerah, berat’. Ini untuk menyebut suatu kondisi musim yang panas menyengat di mana Ramadan itu tiba.

Di Indonesia, Ramadan tahun ini bertepatan dengan bulan Agustus –yang tentu kita tau, adalah bulan perayaan kemerdekaan negara kita tercintah. Sepertinya asyik banget yah. Merayakan party tujuh belasan sekalian dengan puasa. Seru, sekaligus berpahala.

Ironisnya, ternyata Ramadan tidak benar-benar merdeka. Malah, ada beberapa pihak yang justru membelenggu kemerdekaan. Misalnya, kasus warung-warung makan yang dipaksa tutup ketika siang hari. Atau tempat-tempat hiburan yang bukan hanya ditutup, tapi dirusak dan dihancurkan.

Puasa, as far as I known, adalah ibadah personal. Meskipun dikerjakan bareng-bareng bersama keluarga, teman dan orang-orang Islam sedunia –ibadah puasa itu dilakukan secara individual. Maksudnyah, puasa yang saya kerjakan gak ada kaitannya dengan orang lain. Saya laper, yang laper saya sendiri.

Namun, yeah, ada beberapa orang yang ngerasa kalau puasa itu harus berame-rame. Ane puasa, ente juga harus puasa! Ente gak boleh makan! Gak boleh maksiyat!! Gak boleh goda-godain ane!!!!

LAH?! Puasa itu kan MENAHAN godaan, bukan MENGHILANGKAN godaan.

Enak banget yah keknya, puasa petentang-petenteng gak ada godaan. Di sekeliling, semua orang juga pada berpuasa. Tinggal menjalani saja, bersama-sama. Gak seru!

‘Orang-orang itu’ paham sekali bahwa mayoritas agama di Indonesia itu Islam, kemudian mungkin tanpa sadar merasa bahwa negara ini adalah negara Islam. Mereka engga pernah merasakan menjadi minoritas. Coba sekali-kali mereka dikirim pasanan di pulau Bali.

Coba mereka merasakan, seperti cerita Iphann yang pernah tinggal di Bali. Kemarin dia sempat men-twit-kan sekelumit cerita tentang kehidupan Ramadan di Bali. Bagaimana godaan puasa di pulau dewata yang sungguh luar biasa: restoran fast food gak perlu pake tirai, warung tetep buka, dsb. Teman-teman Iphan di Bali juga sangat menghargai. Misalnya ketika, tanpa sadar makan di waktu istirahat sekolah –mereka langsung minta maaf. Mereka penuh toleransi. Gak pernah gangguin orang yang puasa. Bagi yang puasa? Biasa aja. Udah punya iman!!

Lha ini sepertinya kebalik; orang-orang yang berpuasa malah justru gangguin orang-orang yang engga berpuasa. Ngerusak seenaknya. Maksa nutup warung seenaknya. Bahkan di suatu daerah, ada aturannya dari Pemerintah. Wow!

Memang situ aja yang puasa? Mereka yang sakit, mereka yang musafir gimana, mereka yang engga dikenai kewajiban puasa gimana? Saya bingung, tujuan dan alasan maksa warung ditutup ini apaa?

Abah saya menyebutnya sebagai “kekerdilan diri” atau tidak percaya diri. Tidak percaya bisa kuat puasa kalau ada warung yang buka.

Abah juga bilang; padahal kalau warung banyak yang buka dan kita tetap melaksanakan ibadah puasa, berarti makna pengendalian diri kita menjadi lebih. Artinya, kita memang betul-betul mampu mengendalikan diri. Tidak ada urusan, kita meminta orang lain untuk membantu puasa kita. Puasa sendiri kok minta bantuan orang lain?

Loh, tapi Ramadan ini kan suci! Kita perlu menghormati bulan Ramadan!

Oh, please. Tanpa perlu kita hormati, dari duluuuu –Ramadan itu juga udah suci. Udah mulia tanpa perlu dimuliakan. Sama kayak kita mengecat emas dengan cat warna emas, gak guna banget kan?

Kenapa di saat Ramadan, dan bahkan di saat perayaan kemerdekaan Indonesia malah ada warga yang merasa tidak merdeka? Ada yang merasa kerdil, ada yang merasa enggak percaya diri..

Hayoo. Apakah kita sudah benar-benar merdeka?

Mahasiswa dan Kebebasannya


Mengenai kebebasan, kebebasan dimana mereka berhak mengatakan apapun yang mereka suka, mereka rasa, mereka pikir, dan mereka anggap sebagai bentuk aspirasi murni mereka, Mahasiswa!!

Mahasiswa telah mendapat kebebasan tanpa kekangan. Mempunyai hak mengutarakan pikiran-pendapat-perasaan, berekspresi dan berkumpul secara damai. Mahasiswa mampu menantang ide-ide penguasa dengan bukti, bukti bahwa apa yang telah mereka katakan itu benar, dengan menelusuri permasalahan sampai ke akar-akarnya. Dengan sifat intelektualitas dalam berpikir, merdeka, serta berani menyatakan kebenaran apa adanya, dengan cara mereka sendiri. Namun sikap kritis mahasiswa ini sering kali membuat para pemimpin yang tidak berkompeten itu menjadi gerah dan cemas. Para penguasa beserta kolega-koleganya yang hanya mendahulukan kepentingan besar ketimbang kepentingan rakyatnya, jauh dari peduli terhadap realitas kesulitan dan problematika rakyat. Dan permasalahan ini tidak terlepas dari tanggung jawab saya, anda, kita dan mereka, Mahasiswa!!

Para mahasiswa merupakan komunitas elite yang patut diperhitungkan. Tidak hanya faham teknologi atau ilmu-ilmu social lainnya, namun disini mahasiswa sebagai orang yang memiliki kemampuan logis dalam berfikir, membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mahasiswa masih belum terkotori oleh kepentingan pribadi dan beban posisi. Mahasiswa masih bebas menempatkan diri pada tempat yang mereka anggap terbaik, dengan kenetralan, idealisme dan independennya yang hanya memihak kepada kebenaran.

Mahasiswa sebagai tonggak perubahan bangsa, sebagai seorang pembelajar, bagian masyarakat dan panutan yang berlandaskan dengan pengetahuannya, dengan tingkat pendidikannya, dan pola berfikirnya, sehingga mahasiswa memiliki peran yang komleks dan menyeluruh. Bahu-membahu menghadapi permasalahan globalisasii. Ide dan pemikiran cerdas mereka yang dapat merubah paradigma yang berkembang dalam suatu kelompok dan menjadikannya terarah sesuai kepentingan bersama.

Terlepas dari hak kebebasannya, ternyata masih banyak mahasiswa yang tidak dapat bersikap seperti apa yang menjadi harapan masyarakat selama ini. mereka kurang mengontrol diri sendiri, dengan mengartikan kebebasan secara menyimpang. Termasuk sikap hedonis dan materialis, perilaku yang tidak lagi mencerminkan sosok pelajar yang maha, seperti; hura-hura, narkoba, dan freesex yang merajarela. Selain itu ada lagi demo mahasiswa yang dilakukan dengan cara hewani sekali, mereka yang lebih menggunakan otot ketimbang otak. Sifat kritis, demokratis berubah menjadi sadis. Ini cendrung karena emosi dan pembahasan konsep yang tidak matang, sehingga memandulkan pemikiran mereka yang wajar. Sangat berbeda dengan kedudukan mahasiswa sebagai orang yang terpelajar dan intelektual terdidik. Mahasiswa seharusnya menyadari posisi strategisnya, berupaya untuk mewujudkan hal tersebut ke dalam sebuah tindakan-tindakan yang rasional dan dewasa. Tapi untungnya tidak semua mahasiswa berperilaku seperti itu. Saya, anda, kita, kalian tidak seperti itu, bukan!!

Selama ini mahasiswa melakukan aksi-aksi turun ke jalan dalam mengkritisi dan teriakan-teriakan penuh propaganda idealisme dan revolusi. Sifat mereka yang kritis, vokal dan pintar. Namun, persoalan tidak terpecahkan sampai disitu saja. Mahasiswa dan kebebasannya, tidak hanya disini saja, melelahkan!! Masih ada alat yang mampu menuangkan kebebasan mahasiswa, tanpa lelah, tanpa berteriak. Media, dimana media sebagai Aparatus Negara yang mampu menjalankan fungsinya secara halus, dengan menanamkan ideology-ideologi dalam kehidupan masyarakat kedalamnya, seperti pendidikan, keluarga, hukum, politik, komunikasi, bahkan kebudayaan. Hal ini akan lebih mudah untuk diterima oleh masyarakat dan ini waktunya mahasiswa berperan dalam kebebasannya beropini. Mahasiswa mempunyai peluang besar dalam menanamkan ideologi-ideologi baru mereka kepada media, melihat syarat pelaku penyebaran opini perlu memiliki kredibilitas moral dan kredibilitas intelektual, bukannya ini sudah dimiliki semua oleh mahasiswa? Jadi apa susahnya!!

Mahasiswa sebagai calon pemimpin, orang tua dan masa depan bangsa, tidak terlepas dengan pemikirannya bahwa Pentingnya menghormati hak-hak orang lain untuk berbicara dan memiliki pendapat yang berbeda. Dan disini mahasiswa bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai pengubah bangsa, penghapus semua ketidakadilan, pembodohan besar-besaran, penindasan terhadap hak-hak rakyat dan korupsi yang kian menjadi profesi. Dimana rakyat yang tolol semakin tolol, yang miskin semakin miskin, yang ini semua tidak jauh-jauh dari Kegenitan Penguasa. Semoga mahasiswa mampu berperan sebagai koreksi kontrol perbaikan kualitas hidup bangsa, menuju rakyat yang adil, makmur, dan sejahtera. Mulailah dari hal kecil yang berdampak besar. Dan bersiaplah untuk menantang diri sendiri, Mahasiswa!!

mereka juga anak Indonesia


Tidak ada satupun dari mereka yang mengharapkan hidup seperti ini; jelek, item, miskin, tolol, seperti anak babi liar di hutan. mereka hanya terjebak, terjebak dilubang kehidupan yang gelap nyaris tanpa warna, kehidupan bagai jiwa tanpa rasa dan lemah akan moral. Entah dengan siapa mereka harus menuntut, marah, Menggugat dan menyalahkan. Apa dengan Pemerintah!! Negara!! Apparatus keamanan!! apparat keparat!! Para birokrat!! Orang tua!! Atau mereka harus menyalahkan ibu-ibu mengandung 5bulan, dengan alasan “ini demokratis buk”.

Para orang tua yang mempersetankan anaknya seperti ini. Sudah jelas miskin, tapi buat anak seenak udelnya saja. menikmati kesenangan sesaat dan tidak memikirkan penderitan berkepanjangan nantinya, tidak mengerti bahwa hal ini malah akan meningkatkan angka kemiskinan, pengangguran dan jelas kematian. ‘Ini mereka anak indoneisa, pewaris syah republic Indonesia‘. Tapi orang tua yang nggak ada otak itu malah berkata “mari berpasrah nak, satu hari kita akan tewas dengan kemiskinan juga. Berapa uang yang kalian kumpulkan hari ini!!“. *dubragg

Dunia Anak Dunia Masa Depan. Dunia penuh warna dan dunia yang Bukan Sekedar Impian. Mari kita mewujudkan Dunia yang layak bagi Anak, karena mereka juga anak Indonesia. 🙂

Laporan Aktual

Memilih Kabar Dari Sumber Terpercaya

M2000

Social Net Blog

Muslimah Daily

Allah bersamamu. Tidakkah Allah Cukup Bagimu

Pena Syariah

MENJADI KUMPULAN PENULIS YANG MENERAJUI PENULISAN BERASASKAN SHARIAH MENJELANG TAHUN 2025

Jadikan Viral!

biar semakinra.me!

Blog Abu Hudzaifah

Menghidupkan Sunnah Mematikan Bid'ah

Addariny's --- Centre

Meniti Jejak, Para Salafus Sholih yg Bijak

Aisyna haniifah

sibukkanlah dirimu dengan karya yang bisa mengharumkan namamu di hari akhir

bloginismeiga

Ekspresikan Diri dengan Cerita

Perkembangan Islam di Nusantara

merenung Islam masa lalu, merekam Islam masa kini, mereka Islam masa depan

Catatan Cinta Sahaja

AKU BELAJAR DARI KALIAN DAN AKU MENULISKANNYA

Cahyaiman's Blog

A fine WordPress.com site

Ideological Thinker

We write to SPEAK UP

Indonesian Blogwalker

There are far better things ahead than any we leave behind

Draft Corner

A Place for a Dreamer

Perjalanan Panjang

Tentang Hidup, Asa dan Cinta

blognoerhikmat

lihat dengan kata.baca dengan hati

Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Jendela Puisi

serumpun puisi dari hati yang merindu